DetikNews
Selasa 13 Februari 2018, 18:39 WIB

BMKG: Retakan Tanah di Kampung Berlan Bukan karena Patahan Aktif

Jabbar Ramdhani - detikNews
BMKG: Retakan Tanah di Kampung Berlan Bukan karena Patahan Aktif Penampakan jalan retak di Kampung Berlan. (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan jalan retak di Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Timur, bukan disebabkan adanya patahan aktif. Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Jaya Murjaya, mengatakan patahan aktif berada di bawah tanah yang dalamnya mencapai jarak kilometer.

"Retakan itu bukan karena patahan. BMKG tak meyakini ada patahan aktif. Karena itu skalanya sangat kecil. Bicara patahan itu, bicara di kedalaman bumi sana yang mungkin berkilo-kilometer," kata Jaya saat dihubungi, Selasa (13/2/2018).


Dia mengatakan saat ini BMKG tengah mengecek data gempa sejak 1800-an. Hal ini untuk memastikan tak ada patahan aktif di bawah tanah Jakarta yang dapat menimbulkan gempa.

"BMKG tak meyakini ada patahan aktif, maka dari itu BMKG sedang melakukan pengecekan data gempa sejak 1800-an. Tapi dari catatan searah, memang benar di Jakarta pernah terjadi kerusakan 1600-an, 1800-an. Tapi itu sumbernya (gempa) bukan dari Jakarta," ungkapnya.


Jaya mengimbau masyarakat tetap tenang. Dia mengatakan retakan yang berada di Jalan Kesatrian X RT 012 RW 003, Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur, itu tak berkaitan dengan gempa.

"Retakan itu tak ada kaitannya dengan gempa. Jadi masyarakat, kami BMKG, tak melihat sama sekali itu karena gempa. Kami harap masyarakat tetap tenang, kalau ada isu itu karena gempa, itu tidak benar," ujarnya.


Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sempat mengadakan pertemuan dengan BMKG. Jaya mengatakan pertemuan itu dilakukan untuk mengklarifikasi soal isu gempa megathrust atau gempa raksasa berkekuatan mencapai 9,0 skala Richter yang dapat terjadi di Jakarta.

Jaya mengatakan potensi terjadinya gempa megathrust zona subduksi (tumbukan lempeng) tidak berada di Jakarta. Namun dia memastikan sumber gempa itu berasal dari selatan Jawa Barat.


"Itu kan banyak isu gempa megathrust di media beberapa waktu lalu. Gempa megathrust itu sumbernya jauh di selatan Jawa Barat sana. Nah, gelombang esnya itu diperkirakan jika memang benar megathrust di daerah subduksi, sampai Jakarta itu gelombang esnya 20 detik setelah gempa," tuturnya.

"Jadi katakanlah itu gelombang es, gelombang yang merusak ya, 20 detik. Itu golden time. Tapi lagi-lagi sumbernya itu jauh di selatan Jawa sana. Karena masalah patahan di Jatinegara tak yakin, makanya melakukan penelitian gempa. Apakah benar ada patahan di Jatinegara," sambung Jaya.
(jbr/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed