Filipina dan Indonesia Perbarui Perjanjian Melawan Terorisme

Filipina dan Indonesia Perbarui Perjanjian Melawan Terorisme

- detikNews
Rabu, 22 Jun 2005 07:07 WIB
Jakarta - Dengan pertimbangan penyanderaan pelaut Indonesia di Filipina, kedua negara sepakat memperbarui perjanjian untuk memerangi terorisme. Militer Filipina berjanji akan menyelamatkan pelaut Indonesia yang masih ditawan di Filipina Selatan. Para penculik merupakan bagian dari kelompok Abu Sayyaf, yang menurut pemerintah Amerika dan Filipina adalah mata rantai dari jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden."Indonesia dan Filipina akan berupaya untuk melaksanakan patroli di daerah perbatasan kedua negara untuk mencegah aksi-aksi teror," kata Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo di sela jamuan makan malam yang diadakan sehubungan dengan kunjungan Presiden SBY di Istana Malacanang, selasa (21/06/2005).Menurut Arroyo, usaha penyelamatan terhadap pelaut Indonesia yang masih ditawan oleh kelompok Jamaah Islamiah di Mindanao Selatan terus dilakukan. Sebelumnya, dua orang yang juga diculik oleh kelompok yang sama telah dibebaskan oleh militer Filipina pada 12 Juni yang lalu.Dalam pidatonya, Presiden SBY sepakat untuk bekerja sama dengan Filipina dalam segala bidang berdasarkan "kepercayaan dan kepentingan bersama". SBY mengatakan, Filipina adalah "kawan lama," dan kunjungannya kali ini adalah untuk menetapkan perjanjian kerja sama antar sesama tetangga negara Asia Tenggara.Kedua negara juga menetapkan "memberantas terorisme" adalah sama pentingnya dengan "menghapus kemiskinan" yang telah menjadi dasar aksi-aksi terorisme. "Kesuksesan negara kita mengusut dan menangkap mereka yang bertanggung jawab atas aksi terorisme adalah tujuan dari perjanjian itu," tandas SBY.Arroyo juga meminta Indonesia untuk memainkan "peranan penting" dalam usaha perjanjian damai antara pemerintah Filipina dan Front Nasional Pembebasan Moro. Presiden Arroyo berterimakasih kepada Indonesia yang mendukung tawaran pemerintah Filipina untuk menjadi peninjau permanen di Organisasi Konferensi Negara-negara Islam (OKI).Indonesia dan Filipina, kata Arroyo, telah saling memberikan bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana di kedua negara. Indonesia telah mengirim bantuan pangan dan obat-obatan untuk korban tanah longsor yang terjadi di Provinsi Quezon pada tahun 2004 lalu. Di lain pihak, Filipina telah mengirim tim medis ke Aceh dan Pulau Nias ketika Indonesia ditimpa bencana Tsunami pada Desember 2004 lalu. (atq/)


Berita Terkait