DetikNews
Senin 05 Februari 2018, 15:47 WIB

Kartu Kuning Ketua BEM UI, Menristek: Kalau Bertemu Lebih Baik

Ray Jordan - detikNews
Kartu Kuning Ketua BEM UI, Menristek: Kalau Bertemu Lebih Baik Foto: Menristek Mohamad Nasir. (Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdkti) M Nasir menilai aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan map kuning dan meniupkan peluit ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) hal yang wajar. Namun, Nasir menyarankan agar protes dilakukan dengan cara yang lebih baik.

"Saya malah nggak lihat apa-apa. Tapi bagi saya itu hal yang biasa ya. Biasa saja artinya, sesuatu yang tidak perlu direspons berlebihan," kata Nasir saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2/2018).

[Gambas:Video 20detik]


Namun, kata Nasir, jika ada kritik dari mahasiswa, sebaiknya dilakukan secara tatap muka. Sehingga apa yang ingin disampaikan bisa langsung dipahami.

"Tapi bagi saya pribadi, masuk, kalau bertemu lebih enak. Apa sih yang dimaksud dia, gitu. Jadi kita bisa memperbaiki untuk di kementerian. Kalau saya loh," katanya.

"Tapi secara keseluruhan nggak ada masalah," tambahnya.

Nasir mengaku selalu menemui mahasiswa jika ada persoalan. Hal ini yang membuat dirinya merasa tidak pernah didemo oleh mahasiswa.

"Nah, langsung saja. Saya nggak pernah mahasiswa demo kepada saya. Pasti saya ketemuin, apa maunya, diskusi. Oh yuk kapan. Kalau memang itu penting perlu saya selesaikan, segera lakukan," katanya.

Nasir pun mengaku terkejut dengan aksi Zaadit tersebut. Namun sekali lagi, Nasir menegaskan apa yang dilakukan Zaadit adalah hal yang biasa.

"Saya terkejut juga. Tapi bagi saya, hal itu hal yang biasa. Tapi dengan cara yang baik, lebih bagus," katanya.

[Gambas:Video 20detik]


Sementara itu, terkait dengan kebebasan berorganisasi mahasiswa, Nasir menuturkan hal itu tidak boleh dilarang. Nasir menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan larangan terhadap mahasiswa untuk berorganisasi.

"Nggak ada loh. Sangat demokratis. Saya tidak pernah (mengeluarkan) peraturan begitu. Kalau saya peraturan mau keluar itu, mesti saya serahkan dulu, kira-kira bagaimana responsnya. Hearing kalau saya. Kalau memang ada penolakan, nggak cuma peraturan yang satu, peraturan yang lain juga, oh sudah perbaiki dulu apa yang harus dilakukan. Gitu," katanya.

Nasir pun menganggap mahasiswa adalah rekan kerja yang harus selalu didengarkan aspirasinya.

"Mahasiswa harus berkembang. Kalau saya, bahasa kritis harus, dan kita jadikan sparing partner. Dengan begitu, akan menjadi lebih baik," katanya.
(jor/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed