Uni Eropa dalam Krisis
Minggu, 19 Jun 2005 22:21 WIB
Den Haag - Uni Eropa (UE) berada dalam krisis serius. Setelah terbelah dalam soal konstitusi, kini UE gagal bersatu mengenai rancangan anggaran untuk periode 2007-2013. Soal besarnya iuran menjadi titik perselisihan.Rancangan anggaran, yang disampaikan Ketua UE Jean-Claude Juncker (Luxemburg) pada pertemuan puncak pemimpin pemerintahan UE di Brussel, ditolak empat anggota penting, antara lain Inggris (PM Tony Blair) dan Belanda (PM JP Balkenende), Jumat malam atau Sabtu WIB kemarin.Akibatnya kesepakatan mengenai anggaran UE dipastikan bakal tertunda minimal sampai enam bulan ke depan. Peluang pencapaian kesepakatan di bawah kepemimpinan Inggris periode mendatang (mulai 1 Juli) hampir pasti juga nul koma nul. Upaya penyelamatan terakhir oleh negara-negara anggota baru dari bekas Eropa Timur dengan usulan iuran lebih rendah, ternyata juga gagal. "Eropa kini tidak sedang dalam krisis, tetapi krisis yang mendalam," ujar Ketua UE Juncker, menggambarkan situasi saat ini.Juncker yang terlihat kelelahan selanjutnya bereaksi lebih sinis. "Dengan hasil seperti ini maka saya dapat menjelaskan kepada presiden AS betapa efektifnya Eropa," demikian Juncker seperti dikutip ANP kemarin, 18/6/2005. Hari itu juga Juncker langsung terbang ke AS untuk melakukan pertemuan dengan Bush.Egoisme NasionalPerselisihan dalam tubuh UE yang menyebabkan mereka gagal mencapai kesepakatan soal aggaran, dipicu oleh kepentingan nasional beberapa negara. Kanselir Jerman Gerhard Schreuder menyebutnya sebagai 'egoisme nasional' dan dia terang-terangan menyalahkan Belanda.Belanda merasa iurannya ke UE terlalu mahal dibandingkan misalnya Inggris atau Swedia. Selama ini besarnya iuran neto yang harus disetor Belanda adalah 3 miliar euro atau 180 euro per kapita. Sedangkan Inggris yang lebih kaya hanya membayar 90 euro perkapita, Swedia 120 euro.Ketimpangan tersebut menjadi isyu politik panas di Den Haag dan parlemen mendesak agar PM Balkenende mengupayakan pengurangan atau menolak sama sekali. Besarnya pengurangan iuran yang diminta Belanda adalah setengahnya yakni 1,5 miliar euro atau 90 euro per kapita setara Swedia. Namun UE hanya mau menawarkan pengurangan 460 juta euro, kemudian menjelang penutupan pertemuan puncak dinaikkan menjadi 750 juta euro. Namun kedua penawaran itu ditolak Balkenende. "Kedua penawaran itu tidak adekuat,'' begitu alasan tokoh partai Kristen Demokrat (CDA) itu.Penolakan rancangan anggaran EU oleh Belanda kemudian diikuti Inggris, Swedia, Spanyol dan Finlandia. Dengan demikian pertemuan puncak UE di Brusel yang membahas anggaran itu definitif gagal. Sementara Jerman menuding Belanda, Prancis melalui presiden Jacques Chirac juga menyalahkan Inggris sebagai penyebab kegagalan soal rancangan anggaran UE tersebut. Menurut Chirac kesepakatan soal rancangan anggaran hampir tercapai, namun sayang Inggris tak bersedia keluar iuran lebih banyak. "Hal itu menyebabkan pertemuan puncak menjadi gagal," kata Chirac.Sebelumnya Prancis dan Inggris pada pertemuan puncak di Brusel itu juga telah ribut soal subsidi. Inggris mendesak agar subsidi uang UE ke petani Prancis sebagian dihapuskan. Namun Presiden Jacques Chirac menampik desakan itu.Soal konstitusi Eropa juga akhirnya masuk kulkas setelah terbukti Prancis dan Belanda menolak. Untuk sementara ratifikasi konstitsi tersebut dipending hingga Oktober 2006. Diagendakan pada pertengahan 2006 isyu konstitusi tersebut akan kembali diangkat.
(es/)











































