DetikNews
Rabu 31 Januari 2018, 13:42 WIB

Hindari Hoax, Umat Islam Diimbau untuk Selalu Tabayun

Danu Damarjati - detikNews
Hindari Hoax, Umat Islam Diimbau untuk Selalu Tabayun Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Ratusan ulama muda Muhammadiyah mengimbau umat Islam agar tak menjadi penyebar hoax. Soalnya, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang haram.

"Kami juga mengimbau kepada umat Islam agar tidak bekerja sebagai buzzer politik/penyebar hoax karena penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang fasad adalah haram dan akan membawa kemudaratan bagi pelakunya," demikian pernyataan tausiyah kebangsaan ulama muda Muhammadiyah.

[Gambas:Video 20detik]


Pernyataan itu disampaikam oleh ulama muda dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Jati Sarwo Edy di Gedung Dakwan Muhammadiyah, Rabu (31/1/2018). Ini adalah salah satu hasil dari Kongres Ulama Muda Muhammadiyah (KUMM) yang sudah digodok sejak tiga hari sebelumnya.

"Mengimbau umat Islam agar selektif dan menggunakan prinsip tabayyun (klarifikasi) dalam menyampaikan berita, karena menyebar berita bohong/hoax adalah dosa besar dan pelakunya dapat dikategorikan fasik," kata Jati.

Ulama muda dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, Arif Hidayat, membidangi pembahasan soal isu hoax dan berita bohong di Kongres ini. Arif mengataka hoax tidak terbatas pada berita bohong secara langsung saja, namun kabar yang bertendensi melebih-lebihkan supaya menimbulkan citra positif, isitilahnya glorifikasi, juga merupakan hoax yang haram.

"Glorifikasi juga termasuk berita bohong, soalnya ada hiperbola di situ. Itu berbahaya bagi masyarakat," kata Arif.


Literasi media harus digencarkan agar masyarakat bisa lebih selektif menerima informasi. Di Jepang, kara pria yang sedang menempuh studi doktoral bidang pendidikan di Negeri Sakura ini, hoax politik juga marak. Namun masyarakatnya sudah cerdas dan selektif sehingga hoax tidak berakibat buruk.

"Kita juga mendukung sistem QR Codes untuk media, namun QR Codes itu bisa dijadikan tidak permanen. Ketika media menyebarkan hoax maka QR Codes itu dicabut," usulnya.

Kelompok-kelompok anti-hoax di media sosial juga didukungnya. Masyarakat diimbaunya untuk tak mudah percaya kabar viral, meski kabar itu berasal dari kalangan internal umat Islam sendiri.

"Informasi dari internal juga perlu dicek," kata Arif.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, beropini pribadi. Tak semua pekerjaan buzzer adalah pekerjaan haram. Ada pula buzzer yang menyebarkan kabar yang benar. Buzzer yang haram adalah buzzer yang menyebarkan hoax.

"Buzzer politik yang dimaksud adalah yang menyebar fitnah dan hoax. Kan ada juga buzzer hasanah, itu istilah saya saja, yang menyebar pesan-pesan positif," kara Dahnil menambahkan.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed