DetikNews
Senin 29 Januari 2018, 16:00 WIB

Jokowi Ungkap Alasan Tetap ke Afghanistan Meski Ada Serangan Bom

Herianto Batubara - detikNews
Jokowi Ungkap Alasan Tetap ke Afghanistan Meski Ada Serangan Bom Foto: Presiden Jokowi berangkat ke Kabul, Afghanistan (Biro Pers Setpres/Facebook Jokowi)
Kabul - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi tadi melakukan kunjungan kerja ke Kabul, Afghanistan. Dia tetap ke Kabul meski kota itu tengah menghadapi rangkaian teror bom.

Jokowi pagi tadi terbang menuju Kabul dengan pesawat kepresidenan Indonesia-1. Ini adalah hari keenam lawatannya ke lima negara di Asia. Ada sejumlah agenda penting yang akan dilakukan Jokowi selama di sana.

"Seharian penuh di Kabul, saya akan bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani, lalu Majelis Perdamaian Tinggi Afghanistan, dan mengunjungi Istana Darul Aman," kata Jokowi lewat akun Facebook resminya seperti dilihat detikcom, Senin (29/1/2018).

[Gambas:Video 20detik]


Jokowi menyadari kota Kabul sedang diteror ledakan bom yang menewaskan ratusan jiwa. Namun dia tidak gentar untuk tetap pergi ke sana.

"Beberapa hari lalu, kota ini diguncang bom mobil menggunakan ambulans, yang menewaskan lebih seratus orang. Lalu pagi ini terdengar kabar serangkaian ledakan juga terdengar di Kabul, tak jauh dari sebuah akademi militer," ujarnya.

Jokowi pun mengungkap alasannya tetap pergi. Seperti yang dia sampaikan di depan Parlemen Pakistan, Jumat (26/1) lalu, umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik, perang dan terorisme.


"Datanya sangat memprihatinkan: 76 persen serangan teroris terjadi di negara Muslim dan 60 persen konflik bersenjata di dunia terjadi di negara Muslim. Lebih jauh lagi, jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik, 67 persen pengungsi berasal dari negara Muslim," katanya.

Menurut Jokowi, ancaman radikalisme dan terorisme terjadi di mana-mana, hampir seluruh negara di dunia. Tidak ada satu pun negara yang kebal, termasuk Indonesia, Pakistan, dan Afghanistan.

"Apakah kita akan biarkan kondisi yang memprihatinkan ini terus berulang terjadi? Tentu tidak. Kita tidak boleh membiarkan negara kita, dunia, berada dalam situasi konflik. Penghormatan kita kepada kemanusiaan, kepada humanity, seharusnya yang menjadi pemandu kita dalam berbangsa dan bernegara," tegasnya.


(hri/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed