DetikNews
Senin 29 Januari 2018, 13:28 WIB

Cerita Mamat, Belasan Tahun Mengayuh Becak di Angke

Aryo Bhawono - detikNews
Cerita Mamat, Belasan Tahun Mengayuh Becak di Angke Aryo Bhawono
Jakarta -

Emperan pasar di sekitar Stasiun Angke, Jakarta Barat, adalah segalanya bagi Mamat, 66 tahun. Setiap hari ia mencari rejeki denga becaknya di sekitar jalanan stasiun itu. Saat hari mulai gelap ia memarkirkan becak itu ke emperan kios dan tidur di atasnya. "Sudah tidak narik (mengambil penumpang) lagi. Macet, nggak bisa jalan," kata Mamat saat disambangi detik.com, Minggu sore (29/1/2018).

Sambil duduk dengan menekuk lutut, dia menyandarkan kepalanya ke pintu kayu sebuah kios. Matanya mulai sayu, lelah setelah menembus padatnya jalan kecil di depan Stasiun Angke. Semua jenis kendaraan memenuhi jalan kecil itu.

Jalanan adalah sumber rejeki bagi Mamat. Jalanan macet rejeki-pun ikut macet. Jika hari sudah sore dan lalu lintas kian padat ia memilih untuk mengaso agar lebih fresh di pagi harinya yang biasa ramai calon penumpang.



Bagi penarik becak, rejeki datang saat ayam berkokok. Ibu-ibu ke pasar dan para pedagang yang bongkar muat barang banyak memanfaatkan jasa mereka. Tukang becak penumpang seperti Mamat, becak motor, atau becak gerobak pun memenuhi pasar.

Namun rejeki mengayuh becak ini tak seberapa. Mamat mengaku hanya dapat mengantongi Rp 70 ribu jika kondisinya ramai. Kalau sedang sepi dia hanya dapat Rp 30 ribu. Mepetnya rejeki ini-lah yang membuatnya memilih tidur di emperan toko dibandingkan mengontrak rumah seperti rekan-rekannya yang lain.

Pendapatan itu sebagian lagi ia kirimkan kepada istri dan empat anaknya di kampung di Lebak, Banten. Ia mengaku beberapa har menyisihkan uang Rp 50 ribu untuk dikirim ke mereka. Sisa rejeki ia pakai sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dan setoran sewa becak Rp 10.000 per hari.

Menjadi penarik becak merupakan pilihan profesi terakhir baginya sejak belasan tahun terakhir. Lelaki kelahiran tahun 1952 itu mengaku sebelumnya pernah menjadi buruh pabrik plastik tempat sabun, kuli angkut, hingga kernet mobil barang. Pekerjaan itu lenyap satu persatu seiring tutupnya pabrik karena bangkrut, atau karena sebab lain.

Beberapa rekannya sudah tak lagi mengayuh becak karena beralih sebagai tukang sampah di kampung-kampung. Pendapatannya lumayan, Rp 1 juta pernilan ditambah tips dan lainnya. Namun syarat mendapat pekerjaan seperti itu berat bagi Mamat. Dia tak punya KTP DKI Jakarta karena sejak menikah hijrah ke daerah asal istrinya, Lebak. Meski tak punya KTP DKI, dia bebas mengayuh becaknya. Apalagi sejak ada isu kedatangan becak-becak dari luar Jakarta pekan lalu, petugas Satpol PP langsung membagikan stiker putih dan menempelkannya di becak. Dengan begitu, becak Mamat tergolong legal untuk beroperasi dan tak akan 'digaruk' petugas.

Mamat menyebut, beberapa rekannya sesame pengayuh becak banyak yang tak punya KTP Jakarta. Mereka berasal dari daerah pantura, Jawa Barat, dan Banten.

"Saya sebenarnya kelahiran Jakarta. Dulu rumah saya di Mangga Besar, tapi sudah menikah ya ikut sama istri. Sebagian masih ada juga tukang becak yang ber-KTP Jakarta," jelasnya.

Rekan mangkal Mamat, Agus, lebih beruntung dengan memodifikasi becaknya dengan sepeda motor. Ia lebih leluasa melenggang di jalanan karena tak perlu mengayuh. Pendapatannya selama sehari mencapai Rp 100 ribu.

Pendapatan ini harus dikurangi biaya bensin dan perawatan sepeda motor. Namun sejauh ini ia dapat menyisihkan uang untuk mengontrak rumah dan mengirimkan sedikit rejeki ke kampungnya di Ciamis.

Agus-pun sudah cukup lama menjalani pekerjaan sebagai tukang becak, kira-kira 15 tahun. Beberapa tahun lalu ia ikut teman-temannya untuk memodifikasi becak dengan sepeda motor supaya tak capek, baginya mencari rejeki dengan bentor ini cukup. Kini bentor (becak motor) sudah banyak di sekitar Stasiun Angke.


(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed