DetikNews
Rabu 24 Januari 2018, 19:09 WIB

Kejagung Tahan Direktur PT TAB Terkait Korupsi Pemberian Kredit

Yulida Medistiara - detikNews
Kejagung Tahan Direktur PT TAB Terkait Korupsi Pemberian Kredit Direktur PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) ditahan Kejagung. (Yulida/detikcom)
Jakarta - Kejaksaan Agung menahan Direktur PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) berinisial RT. Penahanan itu terkait kasus pemberian kredit Bank Mandiri Cabang Bandung pada 2015.

"Pada hari ini penyidik telah melakukan penahanan terhadap tersangka RT. Tersangka adalah direktur sekaligus pemilik PT TAB. TAB ini adalah kreditur Bank Mandiri dari pihak swasta," kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung Warih Sadono di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018).

RT ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejagung selama 20 hari ke depan. Dalam kasus ini, RT diduga meminta perpanjangan kredit dan merekayasa persyaratan saat meminta penambahan pinjaman.

"Peranannya dia sebagai penerima kredit dalam proses perpanjangan. Dia merekayasa persyaratan. Kerugian negara Rp 1,5 triliun," kata Warih.

RT dikenai Pasal 2 ayat 1, Pasal 3 subsider Pasal 15 juncto Pasal 10 UU Tindak Pidana Korupsi.

Dalam kasus ini, Kejagung telah menetapkan tiga tersangka dari lingkup internal bank Mandiri Cabang Bandung. Mereka adalah mantan Senior Credit Risk Manager Bank Mandiri Cabang Bandung berinisial TKW, serta SBS dan FZ. Ketiganya merupakan pengusul perpanjangan kredit PT TAB.

"Ketiga tersangka sebagai pengusul, yaitu FZ, SBS, dan TKW. Mereka pengusul perpanjangan dan tambahan kredit," ujar Warih.

Peristiwa bermula pada 15 Juni 2015 saat RT mengajukan permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada Commercial Banking Center PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. RT meminta diberi fasilitas perpanjangan seluruh fasilitas kredit modal kerja hingga empat kali dengan total Rp 880,6 miliar.

RT juga meminta fasilitas perpanjangan dan tambahan plafon LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafon LC menjadi Rp 50 miliar. Tak hanya itu, PT TAB juga meminta fasilitas kredit investasi yang kelima (baru) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Permohonan kredit itu diduga menggunakan dokumen yang direkayasa seolah-olah dapat mampu membayar pinjaman. Selain itu, RT diduga menggunakan uang fasilitas kredit senilai Rp 73 miliar. Uang itu digunakan untuk kredit investasi, tetapi digunakan untuk hal lainnya.

"Bahwa debitur PT Tirta Amarta Bottling Company juga telah menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp 73 miliar semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan kredit investasi dan kredit modal kerja, tetapi dipergunakan untuk keperluan yang dilarang dalam perjanjian kredit," ungkap Warih.
(yld/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed