Becak di Singapura biasa disebut sebagai trishaw. Mereka pertama kali terlihat lalu-lalang di jalan pada 1914. Jumlahnya kala itu cuma 15 unit dengan desain masih sangat sederhana. Pemerintah kolonial Inggris menganggap transportasi itu tak layak. Mereka menolak permohonan izin perusahaan Amerika Serikat untuk mengimpor 500 unit becak.
Peneliti Singapura, Koh Qi Rui Vincent dan Jamie Han, menuliskan di ensiklopedia digital National Library Board (NLB) Singapura, penarik becak pada masa itu rata-rata adalah imigran Cina dari Henghua, Hokchia, dan Hokkien.
Becak kembali hadir di Singapura dibawa oleh Jepang pada masa pendudukan (1942-1925). Koran Syonan Times menyebutkan terdapat 10 buah 'ricksha cycle' mulai beroperasi pada 7 Agustus 1943 dengan tarif 15 sen per mil. Sedangkan penarik becak dikenai biaya sewa 80 sen tiap hari.
Baca juga: Orang Sunda dan Jawa Kayuh Becak di Jakarta |
Setelah pendudukan Jepang, becak menjadi alat transportasi favorit. Beberapa bengkel sepeda membuat becak sendiri dengan bahan-bahan lokal. Harga jualnya per unit 500-600 dolar Singapura. Beragam jenis becak pun lalu-lalang di Singapura.
Penarik becak pada waktu itu merupakan salah satu profesi populer masyarakat kelas bawah. Pendapatan yang diperoleh pengayuh becak sebesar 3-20 dolar Singapura, tergantung seberapa lama ia bekerja.
Pemerintah lalu ikut mengatur tarif sejak 1948. Penarik becak dapat mengenakan biaya 0,20 dolar Singapura untuk setiap setengah mil atau 1,5 dolar Singapura untuk tiap jam.
Pemerintah Singapura juga melakukan pencatatan agar peredaran becak lebih tertib. Para pengayuhnya diwajibkan memakai tanda khusus di lengan.
Serikat Pekerja Pengayuh Becak dan Rickshaw Singapura (The Singapore Rickshay and Trishaw Worker's Union/SRTWU) memprotes kebijakan ini. Mereka menolak denda jika tak mengenakan tanda khusus terlalu tinggi sebesar 5 dolar Singapura.
Protes ini ditolak dan dibalas dengan pembangkangan atas perizinan dan pendataan. Alhasil, jumlah pengayuh becak yang mendaftar ke pemerintah hanya 1.000 dari estimasi 18.000. Pemerintah Kota Singapura terpaksa mengalah.
Foto: Dok. Arsip Nasional Singapura |
Catatan ini menjadi satu-satunya kejayaan penarik becak di Singapura. Pada 1948, pemerintah kota melarang registrasi becak baru karena pertumbuhan kendaraan bermotor di Singapura mulai meningkat. Becak dianggap sebagai transportasi yang lambat dan memiliki bentuk terlalu besar sehingga menyita lahan parkir.
Pada 1949, otoritas mendeklarasikan jumlah maksimum pengemudi becak dibatasi 9.000 orang dan jumlah becak 7.900 unit. Pendataan pada 1954, pemerintah kota pun menyebutkan jumlah pengemudi becak menyusut menjadi 4.820 orang dan becak sebanyak 5.175 unit.
Modernisasi Singapura pascakemerdekaan pada 1965 kian menyingkirkan becak dari jalan. Becak tak mampu bersaing dengan kendaraan umum dan sistem transportasi massa yang dibangun oleh pemerintah Singapura. Munculnya taksi ilegal pada 1950-an pun kian menyingkirkan becak.
Pada 1970-an, semua bengkel sepeda menolak merakit becak. Mereka kepayahan menghadapi sepeda impor yang dijual lebih murah di Singapura. Industri becak pun mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singapura sendiri sedang menggalakkan program urbanisasi. Pemukim yang berada di pusat kota berpindah ke pinggiran, pengayuh becak kehilangan pelanggan. Mereka terpaksa ikut pindah ke permukiman pinggir kota untuk mencari pelanggan.
Namun tata kota yang kian baik membuat pengayuh becak terus tersingkir. Transportasi umum yang baik dapat menjangkau kawasan permukiman tempat becak beroperasi. Becak pun dicoret dari daftar transportasi umum, baik untuk jarak jauh maupun dalam permukiman.
Kini mereka hanya mengais rezeki sebagai bagian dari atraksi wisata. Pemerintah pun masih memberlakukan perizinan yang ketat atas becak-becak ini.
(ayo/jat)











































Foto: Dok. Arsip Nasional Singapura