DetikNews
Kamis 18 Januari 2018, 09:49 WIB

Orangutan Tanpa Kepala Diduga Dibunuh karena Dianggap Hama

Audrey Santoso - detikNews
Orangutan Tanpa Kepala Diduga Dibunuh karena Dianggap Hama Foto: Orangutan di Langkat Sumatera Utara dievakuasi. (dok.Bidang Pengelolaan Taman Nasional wilayah III Stabat)
Jakarta - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Wiratno menduga kemungkinan orangutan yang ditemukan mati mengambang tanpa kepala dibunuh karena dianggap hama. Untuk kemungkinan perdagangan kepala orang utan, Wiratno mengatakan tidak ada.

"Tidak ada perdagangan organ orangutan. Tapi kemungkinan karena (dianggap) hama, karena luka di tangan, tapi kakinya nggak luka berdasarkan BAP," kata Wiratno kepada detikcom, Kamis (18/1/2018).

Wiratno mengatakan dirinya akan segera terbang ke Palangka Raya untuk bertemu para pihak, terkhusus pemilik perkebunan. Tujuan menemui para pengusaha perkebunan, jelas Wiratno, adalah untuk mengedukasi mereka agar mereka memiliki kesediaan melapor ke Balai Konservatif Sumber Daya Alam (BKSDA) saat bertemu orangutan di kebun mereka.

"Akan saya gerakkan juga, kita ketemu degan perusahaan sawit dan para pihak di Palangka Raya karena (masalah orangutan dianggap hama) itu kan juga sudah lama sekali. Memang habitat orangutan itu 70 persen di luar kawasan konservasi dan menurut penelitian (habitat orangutan) berubah menjadi perkebunan," ujar dia.


[Gambas:Video 20detik]


Wiratno menyampaikan permasalahan orangutan selama ini berkaitan dengan habitatnya. Wiratno menjelaskan orangutan adalah binatang arboreal atau yang hidup di atas pohon. Masifnya alih fungsi lahan membuat orangutan kehilangan habitatnya.

"Dia kan arboreal sebetulnya hidupnya dari pohon ke pohon. Di atas hidupnya. Kalau di hutan yang utuh kan dia mencari makannya keliling, nah sekarang nggak ada habitatnya. Itu kan juga jadi problem bagi orangutan," jelas Wiratno.

Wiratno menyampaikan pihaknya akan meluncurkan aplikasi yang nantinya ditujukan untuk masyarakat melapor penemuan satwa liar. Wiratno berharap ke depannya masyarakat bersedia segera melapor jika bertemu hewan tersebut, bukan menyakiti.


"Saya segera melakukan mengembangkan sistem masyarakat melapor melalui aplikasi Mame di android. Sebentar lagi akan kita launching sehingga masyarakat bisa melapor jika ada satwa yang disiksa atau diperlakukaan tidak baik di manapun di seluruh Indonesia. Itu saya sedang mengembangkan sistem itu dan saya mau percepat," tandas dia.

Sambil menunggu aplikasi Mame diluncurkan, Wiratno akan mempublikasikan nomor-nomor Kepala BKSDA. "Nomor Kepala BKSDA kita beri ke publik sehingga itu ada kecepatan kita untuk meyelamatkan," tutur dia.

Upaya lainnya untuk mencegah kekerasan terhadap orangutan terjadi lagi, Wiratno akan mendata area habitat orangutan yang sudah alih fungsi jadi perkebunan. Selain itu Wiratno juga akan mendata nomor-nomor telepon penanggung jawab perkebunan.

"Kami mau buka peta di Kalteng, habitatnya di sini-di sini, itu kebunnya siapa. Kami juga harus tahu juga nomor manajer kebun. Satwa orangutan seluruhnya di Kalimantan hampir 50 ribu ekor. Habitat besarnya Kalimantan Tengah," tutur Wiratno.


(aud/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed