DetikNews
Selasa 16 Januari 2018, 21:08 WIB

Setelah Ketua DPR, Siapa Sekjen Golkar Pilihan Airlangga?

Erwin Dariyanto - detikNews
Setelah Ketua DPR, Siapa Sekjen Golkar Pilihan Airlangga? Airlangga Hartarto. (Foto: Dok. Kemenperin)
Jakarta - Dari tiga pekerjaan rumah Airlangga Hartarto setelah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar, masih ada dua hal yang masih harus dituntaskan. Dua isu adalah susunan pengurus pusat partai dan figur pengganti Idrus Marham sebagai Sekjen Partai Golkar.

Posisi Ketua DPR sudah resmi diberikan kepada Bambang Soesatyo pada Senin (15/1). Tak aneh bila dalam dua pekan terakhir dia nyaris tak pernah membalas pesan dari para koleganya di Golkar. Setiap pesan yang masuk paling banter dibalasnya dengan emoticon (tipografi yang merepresentasikan ekspresi wajah: tersenyum, menangis, tertawa, sedih, marah, dan lainnya).

"Nah, saya itu sudah beberapa kali WA (WhatsApp) dibalasnya begini (sambil menunjukkan dua jempol)," kata seorang politikus Golkar yang tak mau disebutkan namanya saat berbincang dengan detikcom, Senin (15/1/2018).


"Kirain cuma saya, ada kolega saya malah nggak dibalas WA-nya," tambah dia.

Untuk posisi sekjen, beredar sejumlah nama yang disebut sebagai calon kuat, yakni Ibnu Munzir, Letjen (Purn) Eko Wiratmoko, Letjen (Purn) Lodewijk Friedrich Paulus, dan Ahmad Doli Kurnia.

Ibnu didukung oleh faksi mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, Letjen (Purn) Eko dan Letjen (Purn) Lodewijk diajukan faksi Luhut Binsar Pandjaitan, dan Ahmad Doli Kurnia disokong faksi Akbar Tandjung. Faksi Agung Laksono dan faksi Akbar disebut juga menyorongkan nama calon sekjen.

Eko dan Lodewijk terganjal AD/ART partai pasal 12 ayat 1, yang mensyaratkan bahwa, untuk menjadi pengurus partai, harus aktif menjadi anggota sekurang-kurangnya lima tahun. Eko Wiratmoko baru menjadi kader Golkar pada Oktober tahun lalu.


Ketua Umum Golkar ketika itu, Setya Novanto, mengangkat Eko sebagai Korbid Polhukam menggantikan Yorrys Raweyai. Lodewijk juga belum genap berusia 5 tahun berkiprah di Golkar.

Namun, pada Rabu malam, 12 Desember 2017, saat penutupan Munaslub Golkar yang menetapkan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum, beredar draf susunan kepengurusan partai itu. Dalam draf tersebut, Eko Wiratmoko didapuk sebagai Sekretaris Jenderal Golkar.

Eko tak membantah maupun membenarkan isi draf tersebut. Namun dia menyatakan siap jika ditunjuk menjadi Sekjen Golkar.

"Ya kalau ditunjuk, siap saja," ujarnya kepada wartawan seusai Munaslub Golkar kala itu.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono membantah ada titipan nama Sekjen Golkar ke Airlangga Hartarto. "Saya nggak mendengar, tuh," kata Agung saat berbincang dengan detikcom, Selasa (16/1/2018).


Dia menyerahkan sepenuhnya komposisi susunan kepengurusan DPP Partai Golkar kepada Airlangga Hartarto sebagai formatur tunggal hasil Munaslub.

"Biarlah (nama sekjen) diskresi ketua umum. User-nya kan ketua umum. Yang paling penting kan chemistry-nya harus sama," kata Agung.

Juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla, Husain Abdullah, mengaku tak mendengar soal nama calon Sekjen Golkar yang diusulkan JK. Sebagai senior dan mantan Ketum Golkar, merupakan hal wajar bila JK dimintai masukan tentang banyak hal, termasuk ihwal partai berlambang pohon beringin itu.

"Beliau kan senior dan mantan Ketua Umum (Golkar)," kata Husain.

Airlangga Hartarto hingga kini masih menyimpan rapat-rapat nama bakal pengurus DPP Partai Golkar, termasuk sekjen. Saat menutup Munaslub Golkar pada 20 Desember 2017, dia mengaku sudah menyimpan nama-nama calon pengurus DPP.

Nama-nama kandidat pengurus DPP ada di kantong sebelah kanan. "Draf kepengurusan masih ada di kantong saya sebelah kanan," kata Airlangga.

Kapan nama itu akan diumumkan?

"Tentu pada saat yang tepat dan saya jadikan bahwa kepengurusan ini akan indah pada waktunya," ucapnya.
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed