"Pertama, rumah itu rumah istri kedua dari penjajah yang korup. Masak situs itu harus ditonjolkan terus. Jadi, rumah istri kedua gubernur yang korup, masak mau menjadi situs masa lalu," kata JK di kantor Wapres, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2018).
JK mengatakan pembangunan UIII adalah upaya membangun situs masa depan. Dia berharap pembangunan UIII tidak dipertentangkan dengan rumah yang berada di wilayah Cimanggis itu.
"Kita melihat masa depan gimana kita membikin Islam yang moderat, wasatiyah di Indonesia yang mempunyai pengaruh luas. Jangan terpengaruh dengan isu rumah istri kedua orang Belanda yang korup. Apa yang mesti dibanggain?" terangnya.
Menurutnya, pembangunan UIII tidak mengambil wilayah rumah peninggalan Belanda tersebut. Lahan yang akan digunakan hanya berkisar 15 persen dari seluruh jumlah lahan.
"Tidak termasuk wilayah itu, artinya tidak termasuk yang dibangun, artinya yang mau dibangun. OKI kita membangun cuma 15 persen. Lahannya yang dipakai cuma 15 persen, paling tinggi 20 persen," terangnya.
Dikatakannya, pada Minggu ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan meletakkan batu pertama penanda dibangunnya UIII. JK kembali mengingatkan bahwa rumah peninggalan Belanda itu tidak mengganggu pembangunan UIII.
"Tapi jangan isu itu dianggap, sekali lagi, kita membuat situs untuk masa depan, bukan membanggakan rumah istri kedua orang Belanda yang korup. VOC kan? Ngapain mesti dibanggakan," tegas JK. (fiq/rvk)











































