DetikNews
Kamis 11 Januari 2018, 22:33 WIB

Melihat Lebih Detail Skema Barter Dolar ala Ponakan Novanto

Faiq Hidayat - detikNews
Melihat Lebih Detail Skema Barter Dolar ala Ponakan Novanto Skema aliran uang PT Biomorf Mauritius yang ditunjukkan jaksa KPK (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Jaksa KPK mengulik tentang upaya keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, membawa uang USD 2,6 juta dari luar negeri ke Indonesia tanpa transfer bank. Cara Irvanto yaitu dengan bantuan perusahaan money changer.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 itu digali jaksa dari keterangan Riswan dan Juli Hira. Keduanya merupakan pengusaha money changer.

Awalnya Riswan mengaku didatangi Irvanto di kantornya di Jakarta. Irvanto disebut Riswan mengaku ingin melakukan barter dolar tetapi Irvanto menyebut dolar itu ada di luar negeri.

Untuk menindaklanjutinya, Riswan menghubungi koleganya, Juli Hira, Komisaris PT Berkah Langgeng yang juga merupakan perusahaan money changer. Juli kemudian meminta rekannya sesama pengusaha money changer di Singapura untuk mencari klien perusahaan yang ingin membeli dolar Amerika Serikat (AS).

"Iwan (Riswan) bilang saya mau transfer, ada klien mau jual dolar, saya kasih rekening. Kalau masuk saya kasih dia cash," ujar Juli ketika bersaksi dalam sidang terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).


Setelah mendapatkan nomor rekening klien perusahaan, Juli memberikannya ke Riswan. Nomor-nomor rekening itu lalu diberikan Riswan ke Irvanto dan diteruskan ke PT Biomorf Mauritius, perusahaan milik Johannes Marliem.

"Pertama 1 juta dolar AS yang ingin ditarik Iwan, saudara lakukan transaksi berusaha menjual dolar tadi satu juta itu ke beberapa klien Anda perorangan dan personal dan perusahaan betul begitu?" tanya jaksa.

"Iya betul," jawab Yuli.

Selanjutnya, jaksa menampilkan skema aliran uang Biomorf Mauritius yang diterima beberapa perusahaan rekan Juli di Singapura. Perusahaan tersebut yakni Kohler Asia Pasific sebesar USD 200.000, Cosmic Enterprise sebesar USD 200.000, Sunshine Development sebesar USD 500.000, Golden Victory sebesar USD 186.470, Pasific Oleo USD 183.470, Wua Kong Trading sebesar 250.000, Omni Patent sebesar USD 240.200 dan Juli Hira USD 200.000.


"Ada lagi dari perusahaan Golden Victory atas permintaan Lulu?" tanya jaksa.

"Iya betul," jawab Juli.

Usai menerima uang tersebut, Juli mencairkan uang miliknya untuk diberikan kepada Riswan. Selanjutnya uang tersebut langsung diberikan Irvanto.

Atas kerja sama tersebut, Riswan menerima keuntungan 100 poin atau Rp 100 per dolar. Sedangkan Juli menerima keuntungan 40 poin atau Rp 40 per dolar.


"Kemudian saudara serahkan tunai ke Iwan setelah menerima transfer?" tanya jaksa.

"Iya," tutur Juli.

Dalam surat dakwaan Novanto, PT Biomorf Mauritius dan PT Biomorf Lone Indonesia milik Johannes itu merupakan salah satu perusahaan yang disebut jaksa memberikan uang ke Novanto. Untuk menyamarkan transaksi, Johannes mengirim invoice ke Anang Sugiana Sudihardjo (Direktur Utama PT Quadra Solution/salah satu perusahaan di Konsorsium PNRI pemenang proyek e-KTP) sebagai dasar untuk pengiriman uang, sehingga seolah-olah pengiriman uang tersebut merupakan pembayaran PT Quadra Solution kepada Biomorf Mauritius atau PT Biomorf Lone Indonesia.
(dhn/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed