Mirisnya Pendidikan di Maros, Kolong Rumah Jadi Sekolah

Mirisnya Pendidikan di Maros, Kolong Rumah Jadi Sekolah

M Bakrie - detikNews
Minggu, 07 Jan 2018 16:57 WIB
Mirisnya Pendidikan di Maros, Kolong Rumah Jadi Sekolah
Maros - 20-an Siswa di Kampung Bara-Barayya, Maros, Sulsel terpaksa belajar di bawah kolong rumah warga dengan kondisi seadanya. Mereka adalah siswa kelas jauh Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Hidayatuah Tanete Bulu.

Lokasi itu tepatnya di Dusun Tanete Bulu, Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hanya ada empat buah bangku panjang yang dibuat seadanya untuk digunakan siswa dari kelas 1 sampai 5. Tak jarang, beberapa siswa harus berdiri karena tidak kebagian.

Begitu pun meja yang mereka gunakan untuk menulis, hanya terbuat dari papan seadanya. Bahkan, meja itu tidak layak disebut meja karena lebih mirip bangku panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena tidak memiliki dinding, tak satu pun wajah pahlawan ataupun simbol negara yang menempel seperti pada kebanyakan ruang kelas. Tak jarang, ayam dan kambing pun ikut 'belajar' bersama mereka.

Mirisnya lagi, hanya ada dua orang guru yang 'kadang-kadang' masuk mengajar. Sulitnya medan untuk sampai ke sana, menjadi alasan tenaga pendidik untuk mengajar di kelas kolong itu. Sehingga, siswa terkadang hanya belajar 3 kali seminggu.

Belakangan, sekelompok anak muda peduli pendidikan dari kota Makassar yang berkunjung ke sana, menggagas project sekolah kolong untuk membantu mereka mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.

Salah satu penggagasnya adalah Mulyadi. Bersama beberapa rekannya, ia menjadi tenaga relawan mengajar di sekolah yang sudah ada sejak 2013 lalu itu. Setiap akhir pekan, mereka ke sana untuk berbagi ilmu.

Melalui media sosial, kelompok anak muda yang tanpa nama komunitas atau lembaga ini berusaha mengetuk hati para donatur. Mereka menggalang dana untuk membeli alat tulis dan buku bagi para siswa.

"Hanya itu yang bisa kami lakukan, kami hanya mencoba untuk membantu mereka mendapatkan pendidikan secara layak. Selain itu, kami juga menjadi relawan mengajar di sana," kata Mulyadi, Munggu (7/1/2017).

Bukannya tidak ada sekolah lain yang layak, kata Mulyadi. MI DDI Hidayatullah yang merupakan sekolah pusatnya, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama lima jam dengan medan yang sangat sulit.

"Kami melihat, minat mereka belajar sangat luar biasa. Kami tersentuh hingga melaksanakan project ini agar anak-anak ini bisa memperoleh sekolah dan fasilitas belajar yang lebih layak," ujarnya. (asp/asp)


Berita Terkait