ADVERTISEMENT

Harapan Minimal Novanto: Hakim Pertimbangkan Nama-nama yang Hilang

Nur Indah Fatmawati - detikNews
Kamis, 04 Jan 2018 08:30 WIB
Setya Novanto (Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta - Setya Novanto akan menghadapi sidang putusan sela dugaan korupsi proyek e-KTP dalam beberapa jam ke depan. Pengacaranya, Firman Wijaya, berharap setidaknya hakim mengabulkan materi eksepsi soal nama yang hilang.

"Ya minimal dipertimbangkan nama-nama yang hilang," kata Firman saat dihubungi detikcom lewat pesan singkat, Kamis (4/1/2018).



Harapannya, jika memang bisa dikabulkan sebagian, jaksa penuntut umum pada KPK harus merevisi surat dakwaan soal poin tersebut. Jika sampai tidak dipertimbangkan, menurut Firman, ini akan menjadi preseden buruk bagi peradilan.

"Ya kalau tidak, masak preseden hukumnya dibolehkan nama seseorang bisa disebut dan dihapuskan semaunya?" ujarnya.

"Dan saya rasa pendapat saya ini bisa dikonfirmasi dengan diklat Kejagung sebagai lembaga yang memproduksi standar surat dakwaan. Saya rasa surat edaran Jaksa Agung dan Jampidum berlaku terhadap JPU di mana pun dia bertugas," imbuh Firman.

Dalam eksepsi yang dibacakan pada Rabu, 20 Desember 2017, Novanto mempermasalahkan tentang nama-nama politikus lain yang sempat disebut dalam surat dakwaan terdakwa lain. Namun, dalam surat dakwaannya, nama-nama itu hilang.


Padahal dalam surat dakwaan terdakwa sebelumnya, nama Irman, Sugiharto, dan Andi Narogong alias Andi Agustinus muncul dan disebutkan menerima aliran duit proyek e-KTP dengan jumlah tertentu.

Jaksa pada KPK kemudian menjawab dalam jawaban eksepsi pada Kamis, 28 Desember 2017. Jaksa membahas dakwaan splitsing atau pemisahan berkas perkara pidana yang dipermasalahkan tim kuasa hukum Setya Novanto. Dalam dakwaan ini, fokus pembuktian perkaranya adalah pada perbuatan satu terdakwa saja, yaitu Setya Novanto. Sedangkan soal penerimaan uang orang-orang yang namanya hilang itu, jaksa pada KPK tidak menanggapi lebih jauh karena sudah masuk pokok perkara.

Sementara itu, KPK menegaskan nama tersebut tidak hilang. Hanya namanya direduksi menjadi satu poin dalam dakwaan, yaitu sejumlah anggota DPR yang menerima uang.

Ketua KPK Agus Rahardjo juga menegaskan, dalam dakwaan, Novanto bukanlah pihak pemberi uang, seperti halnya Irman dan Sugiharto. "Pak Sugiharto dan Irman, mereka memberi ke banyak pihak. Yang disebutkan itu kan diberi semua. Kalau Pak Setya Novanto memberi ke siapa? Kan tidak memberi ke Pak Ganjar, kan nggak ada kan," kata Agus di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (27/12/2017). (nif/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT