DetikNews
Kamis 28 Desember 2017, 13:21 WIB

Saling Balas Ilustrasi 'Pencurian dan Pembunuhan' di Kasus e-KTP

Faiq Hidayat - detikNews
Saling Balas Ilustrasi Pencurian dan Pembunuhan di Kasus e-KTP Setya Novanto (Ari Saputra/detikcom)
FOKUS BERITA: Novanto Dieksekusi
Jakarta - Untuk menjawab eksepsi atau nota keberatan Setya Novanto, jaksa KPK memberikan ilustrasi kasus pencurian di rumah kosong. Seperti apa?

Awalnya dalam eksepsi, pengacara Novanto heran lantaran ada perbedaan isi surat dakwaan Novanto dengan terdakwa sebelumnya. Padahal, menurut pengacara Novanto, dakwaan kasus korupsi e-KTP itu splitsing atau pemisahan berkas.

Namun jaksa pada KPK memiliki argumen lain. Jaksa pun menggambarkan kasus proyek e-KTP dengan kasus pencurian uang di rumah majikan.

"Izinkan kami menyampaikan satu ilustrasi kasus yang sederhana yang hampir setiap hari dapat ditemui dalam praktik peradilan di Indonesia," ujar jaksa KPK dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/12/2017).


Ilustrasinya adalah kasus pencurian di rumah kosong yang dilakukan oleh dua orang. Pelaku pertama mencuri uang Rp 1 juta di kamar tidur sang majikan, sedangkan pelaku kedua mencuri perhiasan di kamar tidur pembantu. Pelaku pertama ditangkap dan diproses hukum, sedangkan pelaku kedua masih kabur.

"Dalam surat dakwaan, penuntut umum tetap mendakwakan pelaku pertama secara bersama-sama dengan pelaku kedua melakukan pencurian. Dalam dakwaan tersebut belum diketahui berapa perhiasan yang dicuri oleh pelaku kedua," ujar jaksa KPK.

Setelah itu, pelaku kedua tertangkap dan berkasnya disusun terpisah. Dari situ barulah diketahui barang yang dicuri berupa 10 gram emas. Tak hanya itu, ada fakta lain, yaitu denah rumah yang didapatkan dari mantan sopir si majikan.

"Dengan ilustrasi tersebut, menjadi pertanyaan adalah apakah ketika penuntut umum mendakwa pelaku pertama bersama-sama dengan pelaku kedua. Namun disidangkan secara terpisah hal itu masuk kaidah Pasal 142 KUHP? Apakah akan dipaksakan pelaku dan uraian fakta materiilnya disamakan dengan dakwaan terhadap pelaku pertama, sedangkan pada penyidikan pelaku kedua baru terungkap jumlah perhiasan yang dicuri dan adanya bantuan dari mantan sopir?" ucap jaksa.


"Silakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dijadikan sebagai bahan renungan penasihat hukum," imbuh jaksa.

Seusai persidangan, pengacara Novanto, Fahmi, merespons hal itu dengan memberikan ilustrasi juga. Namun Fahmi memberikan ilustrasi kasus pembunuhan yang dilakukan lima orang.

"Sebagai contoh masalah pencurian, sekarang saya kasih contoh juga perkara pembunuhan, misalnya ada yang melakukan lima orang. Masing-masing punya peran, orang pertama dengan cara menusuk ke dada, kedua dengan melempar batu ke kepala, peran ketiga keempat kelima dengan tangan. Ketika terdakwa yang lain disebutkan pakai pistol, pakai golok, perbuatannya beda sama sekali," kata Fahmi.

Fahmi menilai kasus proyek e-KTP merupakan kasus besar yang tak bisa dibandingkan kasus lain. "Jadi nggak benar itu. Kita lihat perkara lain yang besar-besar pasti sama semua. Ini kan perkara besar," Fahmi menambahkan.
(fai/dhn)
FOKUS BERITA: Novanto Dieksekusi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed