Menderita Hidrosefalus, Bayi Afifah Konsumsi Susu Melalui Selang

Raja Adil Siregar - detikNews
Kamis, 21 Des 2017 09:57 WIB
Foto: Pengurus Bhayangkari datangi rumah Bayi Afifah (Raja-detikcom)
Palembang - Bayi malang Afifah Ahtalia menderita penyakit hidrosefalus dan cacat lahir, kepalanya semakin membesar sejak dilahirkan. Afifah terlahir dari keluarga kurang mampu, hanya bisa terbaring di rumah tanpa pengobatan dan penanganan medis.

Zulkifli dan Marlia Agustina, kedua orang tua Afifah hanya bisa pasrah dengan memberikan pengobatan serta susu seadanya melalui selang pada putri kedua mereka. Bahkan, sejak dilahirkan pada 18 November lalu dan keluar dari rumah sakit, Afifah tidak lagi pernah dibawa untuk berobat.

"Sejak pulang dari rumah sakit setelah melahirkan tidak pernah dicek lagi ke dokter, biaya sudah tidak ada. Sebelumnya dokter sudah pernah suruh cek darah, tapi karena biaya tidak ada saya tidak pernah lakukan pengecekan dan belum tahu nanti ke depan seperti apa," kata Marlia saat ditemui di Jalan Bungaran, Kelurahan 8 Ulu kota Palembang, Kamis (21/12/2017).




Diakui Marlina, sejak hamil dirinya memang tidak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter spesialis ataupun melakukan USG. Untuk memastikan kondisi bayinya yang saat terlahir memiliki berat 2,5 kg ini dalam keadaan sehat, dia bersama suami hanya cek ke bidan dan itupun tidak rutin dilakukan.

Bukan tanpa sebab hal itu tidak dilakukan, faktor biaya memang selalu menjadi penyebab utama keduanya. Jangankan untuk cek kandungan, untuk makan dan sewa kontrakan saja dirinya kesulitan dan bebebrapa kali mengalami penunggakan hingga harus mengungsi ke rumah orang tua.

"Selama hamil tidak pernah cek USG, tapi ada beberapa kali periksa ke bidan saat hamil, itu juga kalau sedang ada uang. Karena biaya menjadi kendala kami selama ini, jadi waktu cek bidan pernah menyampaikan menyampaikan saat itu kondisi kandungan baik dan dapat lahir normal," sambungnya.

Siapa sangka, saat dilahirkan Afifah ternyata memiliki cacat dan secara fisik tidak sama dengan bayi yang lahir pada umumnya. Beberapa dokter saat itu menganalisa bahwa Afifah menderita hidrocefalus, cacat bawaan lahir dan terkena virus yang harus dipastikan di laboratorium.

Beberapa kerabat silih berganti mengunjungi rumah kedua orang tua Afifah untuk memberikan bantuan. Bahkan, ada pula yang mengusulkan agar Afifah dirawat dan tidak berlarut-larut seperti ini, karena jika dilihat semangat Afifah dan kedua orang tuanya sangat kuat untuk dapat sehat dan tumbuh seperti anak pertamanya yang sudah berusia 2,5 tahun.

Melihat kondisi kesehatan Afifah yang semakin memprihatinkan, ketua pengurus daerah Bhayangkari Sumsel Milawati Zulkarnain Adinegara dan ketua pengurus daerah Bhayangkari Palembang Ana Wahyu Bintono, langsung mengunjungi tempat Afifah tinggal guna memberikan bantuan dan tali asih.

"Sejak lahir memang anak itu selalu terbaring di rumahnya tanpa ada perawatan atau penanganan khusus. Untuk konsumsi susu juga diberikan seadanya saja melalui selang, dalam rangka Hari Ibu ini, kami dari Bhayangkari ingin memberikan tali kasih untuk bayi Afifah," kata Milawati.

Menderita Hidrosefalus, Bayi Afifah Konsumsi Susu Melalui SelangFoto: Pengurus Bhayangkari datangi rumah Bayi Afifah (Raja-detikcom)


Untuk memastikan kesehatan Afifah, pengurus Bhayangkari Sumsel dan Palembang rencananya akan mencarikan solusi pengobatan agar Afifah dapat dirawat secara intensif di rumah sakit. Termasuk pengurusan BPJS Kesehatan bagi Afifa dan kedua orang tuanya.

Pengurus daerah Bhayangkari Sumsel dan Palembang diketahui memang sudah beberapa kali memberikan bantuan dan tali asih pada masyarakat. Mulai dari bedah rumah nenek Rahma (71) yang hidup sebatang kara dengan kondisi memprihatinkan dan bantuan terhadap bocah yang diduga mengidap kelamin ganda.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun ini, pengurus memanfaatkan momen untuk mengunjungi Afifah dan memberikan dukungan moril pada kedua orang tuanya. (rvk/rvk)