DetikNews
Kamis 14 Desember 2017, 18:37 WIB

Pengacara: Andi Narogong Bukan Kepanjangan Tangan Setya Novanto

Haris Fadhil - detikNews
Pengacara: Andi Narogong Bukan Kepanjangan Tangan Setya Novanto Andi Narogong (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Tim pengacara Andi Agustinus alias Andi Narogong menyebut kliennya bukanlah orang dekat Setya Novanto. Andi juga disebut tak memiliki kedekatan khusus ataupun kepanjangan tangan Novanto.

"Bahwa tidak benar jika dikatakan terdakwa adalah orangnya saksi Setya Novanto atau bertindak sebagai wakil saksi Setya Novanto atau kepanjangan tangannya karena memiliki kedekatan khusus dengannya. Sebab, faktanya untuk menghubungi Setya Novanto, terdakwa harus mengubungi ajudannya, bukan langsung ke Setya Novanto," kata salah satu pengacara Andi ketika membacakan pleidoi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis (14/12/2017).

Namun, pihak pengacara tak membantah Andi yang memperkenalkan eks Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman kepada Novanto saat proses penganggaran proyek e-KTP. Hal tersebut menurut pengacara adalah atas permintaan Irman karena mengetahui Andi telah mengenal Novanto lebih dahulu.

Selanjutnya, pengacara juga membantah Andi memberikan uang USD 3,3 juta kepada pimpinan Banggar DPR RI di ruang kerja Novanto, karena barang bukti yang digunakan oleh jaksa dinilai tidak relevan. Pengacara Andi juga membantah kliennya mengenal mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazarudin.

"Terdakwa sendiri tidak kenal saksi Muhammad Nazarudin serta saksi Anas Urbaningrum," ujar pengacaranya.

Pada tahap pelaksanaan pengadaan e-KTP, pengacara menyebut Andi bukanlah pihak yang menentukan pembentukan konsorsium PNRI, Astragraphia dan Murakabi Sejahtera. Andi juga disebut tidak ikut campur dalam kemenangan konsorsium PNRI dalam lelang proyek e-KTP.

"Kemenangan tersebut tanpa sepengetahuan terdakwa, dimana saksi Paulus Tannos telah melakukan pemberian ruko di Grand Wijaya kepada saksi Asmin Aulia, adik dari Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Serta menjanjikan sebidang tanah di Brawijaya yang bisa dikonfirmasi dari fakta berdasarkan keterangan saksi Asmin Aulia, saksi Gamawan Fauzi dengan dihubungkan barang bukti atau bukti surat yang diajukan penuntut umum," ungkap pengacaranya.

Selain membantah sejumlah hal, pengacara Andi juga mengakui kalau kliennya memberikan uang USD 1,5 juta kepada Irman dan Sugiharto. Uang itu disebut atas permintaan Irman yang ditujukan agar Andi mendapat pekerjaan dari pemenang lelang proyek e-KTP.

"Terdakwa memenuhi permintaan saksi Irman, karena terdakwa berharap untuk bisa dibantu saksi Irman untuk mendapat pekerjaan dari pemenang lelang proyek e-KTP," jelas pengacaranya.

Sebelumnya, Andi Narogong dituntut 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Andi juga dituntut membayar uang pengganti USD 2.150.000 dan Rp 1,1 miliar.

Jaksa menyatakan Andi Narogong memperkaya diri dan orang lain. Perbuatan Andi Narogong disebut jaksa telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun.
(HSF/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed