Data citra satelit tersebut diunggah Kepala Pusat Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo melalui akun Twitter-nya, Selasa (12/12/2017).
Dalam data citra satelit yang diunggah Sutopo tampak perubahan wajah Jakarta dengan waktu pengambilan gampar tahun 1972, 1982, 1997, 2005 dan 2014. Tampak dengan jelas, kawasan hijau makin lama tergerus oleh kawasan permukiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jakarta rawan banjir sejak jaman VOC-sekarang. Ancaman banjir makin meningkat seiring landuse change di Jabodetabek. Lihat citra satelit 1972-2014, warna merah adalah kawasan terbangun, hijau pepohonan. Siapapun yang menjadi Gubernur DKI Jakarta akan sulit menuntaskan banjir," kata Sutopo dalam pernyataannya.
Dalam keterangan pada kolase gambar citra satelit tersebut, disebutkan bahwa upaya penanganan banjir kalah cepat dibanding laju penyebab banjir.
(fjp/tor)Jakarta rawan banjir sejak jaman VOC-sekarang. Ancaman banjir makin meningkat seiring landuse change di Jabodetabek. Lihat citra satelit 1972-2014, warna merah adalah kawasan terbangun, hijau pepohonan. Siapapun yang menjadi Gubernur DKI Jakarta akan sulit menuntaskan banjir. pic.twitter.com/aH8Cu2V35R
β Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_BNPB) December 12, 2017










































