Redam Kerawanan, Kampanye Pilkada Solo Diwarnai Pawai Budaya
Selasa, 07 Jun 2005 14:32 WIB
Solo - Kota Solo selalu dicitrakan sebagai kota bersumbu pendek. Sepanjang sejarahnya memang kota ini sering mengalami kerusakan akibat rusuh massa. Dalam pilkada kali ini, KPU Kota Solo menggelar kampanye dengan pawai budaya melibatkan seluruh pasangan calon dengan maksud meredam potensi kerawanan itu.Pawai bersama itu akan digelar pada 11 Juni 2005 mendatang, atau dua hari setelah memasuki masa kampanye Pilkada Kota Solo. Rombongan pawai akan berangkat dari Kantor KPU Kota Solo di Kompleks Stadion Manahan dan akan berakhir di pelataran Balaikota Solo di Jalan Jendral Sudirman. Rute yang akan dilalui tidak kurang dari lima kilometer."Semua pasangan calon sepakat dan bersedia untuk ikut tampil dalam pawai. Tujuan pawai ini adalah menampilkan kampanye dengan sentuhan budaya, karena Solo adalah pusat budaya Jawa. Kami mengambil bungkus budaya untuk memoderasi potensi kekerasan sebagai ekses pilkada," kata Ketua KPU Kota Solo Eko Sulistyo di kantornya, Selasa (7/6/2005).Ditentukan bahwa semua pasangan calon bersama istri masing-masing harus tampil berbusana Jawa dengan menaiki andhong, angkutan tradisional Jawa yang ditarik kuda. Setiap pasangan juga harus menampilkan salah satu jenis kesenian yang mengiringi perjalanan mereka selama pawai berlangsung."Kecuali pengawalan polisi dan ambulans, tidak ada kendaraan bermesin dalam pawai itu. Semua menggunakan kendaraan tradisional. Selain menghindarkan kebisingan, juga untuk menimbulkan nuansa Solo yang akrab sebab perjalanan akan lebih lambat dan masyarakat bisa menyaksikan lebih lama. Kami berharap suasana akrab itu bisa bertahan hingga pilkada usai," papar Eko.KPU Kota Solo selaku panitia juga akan menyemarakkan suasana dengan menampilkan perangkat gamelan beserta penabuhnya yang didatangkan dari STSI Surakarta. Sepanjang jalan, para penabuh akan membunyikan Galaganjur, sebuah instrumentalia dari gamelan di Jawa maupun Bali yang biasa dibunyikan untuk menghormati atau mengiringi perjalanan tokoh penting.Untuk melengkapi simbolisasi, KPU Kota juga meminjam sebuah kereta milik Kraton Surakarta untuk pawai itu. "Atas pertimbangan maknanya, kami meminjam Kereta Kiai Naga Liman. Naga di Jawa diartikan sebagai penjaga ketentraman, sedangkan liman artinya gajah diartikan sebagai tunggangan seorang pejabat yang memiliki kedudukan tinggi. Walikota termasuk di dalamnya," ujar Eko.
(nrl/)











































