DetikNews
Selasa 05 Desember 2017, 13:22 WIB

Wawancara Lengkap Jenderal Gatot: Soal Pensiun dan Pilpres 2019

Ray Jordan - detikNews
Wawancara Lengkap Jenderal Gatot: Soal Pensiun dan Pilpres 2019 Foto: Dok. Puspen TNI
Bogor - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan mengakhiri masa jabatannya pada 1 April 2018. Gatot pun senang Presiden Joko Widodo telah memilih pengganti dirinya dan siap menatap sejumlah kegiatan di masa pensiun nanti.

Hal tersebut diungkapkan Gatot saat diwawancarai wartawan setelah menghadiri rapat bersama Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/12/2017). Jenderal Gatot hadir untuk menghadiri rapat.

Berikut ini wawancara tersebut:

Pak Gatot, Presiden Jokowi telah memilih Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI menggantikan Anda. Mohon tanggapannya?

Saya mengucapkan syukur alhamdulillah, bahwa sebagai seorang prajurit pasti punya mimpi tinggi, mimpi menjadi Panglima TNI. Semua prajurit menginginkan, apalagi perwira. Dan saya bisa terwujud mimpi itu, karena saya jadi Panglima TNI, yang melantik saya adalah Pak Jokowi, itu saya bersyukur.

Kedua, saya juga bersyukur bahwa Presiden telah menentukan pengganti saya, dan pengganti saya ini, seperti disampaikan, dipersiapkan untuk menghadapi tantangan tugas ke depan. Tantangan tugas ke depan adalah tahun politik.

Dari tiga kepala staf angkatan, yang memenuhi syarat, menurut saya, sebagai tahun politik, pertama KSAL bulan Mei pensiun, kalau jadi Panglima TNI kan cuma sebentar. KSAD Januari 2019-an (pensiun). Nah, KSAU ini (masa jabatannya) sampai 2020, sehingga bisa memimpin TNI menghadapi tahun politik dengan lancar.

Kedua, beliau (Presiden Jokowi) tidak mengambil kepala staf, dari mungkin Wakasau (Wakil KSAU) dinaikkan mendadak. Semuanya sudah sesuai persiapan. Ini yang sudah dipersiapkan secara regenerasi. Penyiapan kader-kader yang disiapkan sejak awal.

Saya ucapkan terima kasih bahwa langkah-langkah ini sudah dilakukan.

Kemudian nama sudah diajukan kepada DPR. Sebaiknya, begitu sudah diputuskan oleh DPR bahwa disetujui, jangan lama, jangan menunggu sampai saya paraf lagi. Mengapa demikian? Karena ini terjadi dualisme, hanya tinggal satu langkah keppres saja. Jadi saya kerja juga pekewuh, Pak Hadi juga gimana. Lebih baik efektif saja, begitu selesai, mungkin satu minggu, lima hari, saya pamitan.

Tidak menunggu pensiun dulu baru pamit?
Karena itu tadi, sudah diputuskan oleh DPR, disetujui, maka sebaiknya agar ini efektif, saya akan di belakang. Apa yang belum saya akan dampingi.

Ada pesan khusus untuk Hadi Tjahjanto yang akan jadi Panglima TNI?
Lo, KSAU ini setiap hari ketemu, pesan-pesan ya setiap harilah.

Penjelasan detail soal tantangan ke depan itu seperti apa?
Kita melihat bagaimana pilkada atau pilgub di DKI, begitu keras, tensinya tinggi, mengerahkan pasukan begitu banyak. Sekarang ini bukan hanya satu, ada 171 (pilkada serentak), dan semua benar-benar berjuang, karena yang menentukan kepala daerah ini juga modal untuk pileg dan pilpres, jadi agak keras. Ini yang perlu diantisipasi betul.

Anda sendiri melihat sosok Hadi Tjahjanto sendiri seperti apa?
Pak Hadi cocok untuk jadi Panglima TNI dalam tahun politik, itu harus sama-sama kita yakini. Presiden yang pakai kok. Memangnya siapa kita?

Masa pensiun nanti, apa kegiatan yang akan dilakukan?
Saya ini tidak pernah mengalami cuti tahunan selama saya mengabdi (sejak) tahun 1982 sampai sekarang. Saya mengalami operasi 7 kali, saya hanya sekali saja alami dioperasi. Anak-anak saya tumbuh berkembang tanpa gendongan saya, sehingga saya merasa berutang kepada keluarga saya. Saya membalasnya tidak bisa dengan anak saya. Anak saya kan sudah gede-gede. Kan gitu. Saya membalasnya pada cucunya. Istilahnya, cari mukalah sama anak, sambil monitor, bagaimana sih dari anak-anak sampai dewasa bagaimana, saya kan nggak ngelihat. Saya pulang sebentar, saya tinggal lagi.

Nanti lebih sering dipanggil 'mbah' dong, bukan panglima lagi?
Ini kan saya tidak mau kalah sama Presiden. Presiden kan masih sibuk kan, nah saya bisalah ngemong cucu, iya dong.

Bagaimana kalau ada tawaran berkegiatan di politik saat pensiun nanti?
Saya belum pensiun, aturan terhadap saya masih tetap berlaku.

Bagaimana jika semua tawaran itu terbuka saat pensiun nanti?
Saya sebagai seorang prajurit, walaupun pensiun, manakala negara memanggil untuk mengabdi, sekecil apa pun, saya siap mengabdi.

Termasuk ke dunia politik?
Ya, apa pun yang diminta negara, nyawa pun akan saya berikan. Tidak akan saya menghindari itu. Sama dengan purnawirawan lainnya, Sapta Marga, Sumpah Prajurit masih dipegang.

Ada rencana untuk 2019?
2019 nanti kok.

Akan ikut kontestasi politik, coba-coba?
Kok, coba-coba.

Kalau ada yang pinang nanti, Pak?
Kamu sudah menikah belum (kata Gatot kepada salah satu wartawan)

Sudah Pak (jawab wartawan).
Kalau sudah menikah, terus ada yang pinang lagi, gimana?

Kan beda konteks, Pak (jawab wartawan tersebut).
Nah sama juga, ini kan beda konteks juga.

Jika nanti dipinang 'bismillah' sama Pak Jokowi?
Saya katakan nanti sajalah kita lihat. Sekarang saya bagaimana perintah Pak Jokowi menyiapkan semuanya ini. Sekarang ini secara de facto dan de jure saya masih Panglima TNI. Masih punya kesempatan untuk menyiapkan, sehingga pada saat pergantian berjalan mulus semuanya karena memang itu yang harus dilakukan menghadapi tugas-tugas Pak Hadi ke depan.

Berarti nanti sering dipanggil 'mbah' dong, Pak?
Jangan panggil mbah, panggil aa saja ntar. (Gatot tertawa.)
(jor/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed