ADVERTISEMENT

Penyandang Disabilitas Menang, Etihad Dihukum Bayar Rp 537 Juta

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 04 Des 2017 16:54 WIB
Dwi Ariyani (Haris Fadhil/detikcom)
Jakarta - Maskapai Etihad divonis terbukti melawan hukum atas gugatan yang diajukan penyandang disabilitas Dwi Ariyani. Etihad pun wajib membayar ganti rugi materiil Rp 37 juta dan imateriil Rp 500 juta.

"Menghukum tergugat I membayar ganti rugi materiil Rp 37 juta dan imateriil Rp 500 juta kepada penggugat," kata ketua majelis hakim Ferry Agustina saat membacakan putusannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (4/12/2017).

Hakim menilai Etihad tidak melaksanakan kewajibannya dengan memberikan fasilitas kepada Dwi. Menurut hakim, perbuatan maskapai Etihad termasuk diskriminasi.


"Tergugat I seharusnya memberikan fasilitas aksesibilitas, apalagi semua syarat telah dilakukan penggugat, apalagi telah ada tiket dan kursi sebagai statusnya sebagai penyandang disabilitas. Menimbang bahwa berdasarkan penolakan terhadap penyandang disabilitas telah melanggar hukum dan melanggar kepatutan dan melakukan diskriminasi," sebut hakim.

Selain itu, hakim menghukum Etihad untuk menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan yang sama terhadap penyandang disabilitas melalui salah satu media cetak nasional. Namun tuntutan lainnya tidak dikabulkan hakim.

Tuntutan yang tidak dikabulkan yaitu terhadap PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurut hakim, pihak ground handling seperti PT JAS tidak memiliki kewenangan dan tunduk pada maskapai.

"Tergugat II (PT JAS) hanya sebagai ground service atau ground handling. Menimbang bahwa tergugat II tidak ada kewenangan soal operasional selain melaksanakan perintah dari tergugat I maka diturunkannya penggugat bukan jadi tanggung jawab tergugat II," sebut hakim.


Seusai sidang, Dwi menyebut putusan itu sangat berarti baginya dan penyandang disabilitas lainnya. Menurutnya, hak-hak disabilitas harus terus diperjuangkan.

"Ini sebuah keputusan yang sangat berarti bagi kita semua. Karena ini merupakan tolok ukur hak-hak disabilitas di Indonesia harus terus diperjuangkan," ujar Dwi.

Sedangkan salah seorang kuasa hukum Etihad, Gerald Saratoga Sarayar, menyatakan belum bisa berkomentar atas putusan itu. "Untuk saat ini saya nggak bisa ngasih apa-apa," kata Gerald sambil meninggalkan ruang persidangan.

Kasus ini berawal pada 8 Maret 2016 ketika Dwi Ariyani, yang merupakan penyandang disabilitas, mendapat undangan International Disability Alliance untuk menghadiri pelatihan tentang pendalaman implementasi dan pemantauan konvensi tentang hak-hak penyandang disabilitas. Acara tersebut diagendakan berlangsung pada 4-11 April 2016 di kantor PBB Swiss.

Namun, rencana mengikuti konferensi itu gugur karena Dwi tidak bisa menaiki pesawat Etihad ke Swiss pada 3 April 2016. Dia diminta turun oleh pihak maskapai saat telah berada di atas pesawat karena dianggap sakit, padahal Dwi mengaku telah memiliki izin dokter yang menyatakan dirinya sehat.

Selain itu, pihak maskapai meminta Dwi mendapatkan pendampingan oleh seseorang di dalam pesawat agar mudah mengevakuasinya saat dalam keadaan darurat. Menurutnya, alasan tersebut tidak masuk akal karena Dwi sering melakukan kegiatannya sehari-hari dengan sendiri.

Atas perlakuan tersebut, Dwi melalui kuasa hukumnya, Heppy Sebayang, menggugat tiga pihak, yaitu maskapai Etihad Indonesia, PT Jasa Angkasa Semesta Tbk, dan Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Dalam gugatannya, Heppy meminta hakim memberikan sanksi berupa permintaan maaf lewat media serta ganti rugi materiil dan imateriil kepada pihak maskapai Etihad karena telah melakukan perbuatan diskriminatif terhadap penumpang disabilitas. Penggugat juga meminta Menteri Perhubungan mengevaluasi dan meninjau ulang perizinan dan aturan teknis penerbangan internasional lain agar teknis penerbangannya sesuai dengan aturan penerbangan di Indonesia. (dhn/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT