Saat Megawati Sapa 'Gubernur Djarot' di Peluncuran Buku Bung Karno

Zunita Amalia Putri - detikNews
Kamis, 30 Nov 2017 16:34 WIB
Foto: Zunita/detikcom
Jakarta - Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato di peluncuran tiga buku seri Bung Karno. Dalam pidatonya, Megawati menyebut Djarot Syaiful Hidayat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Yang saya hormati Bapak Try Sutrisno, kebetulan beliau dan saya harus sering kali ketemu, karena kami ditunjuk sebagai Dewan Pengarah di UKP PIP Pembinaan Ideologi Pancasila dan beliau adalah Wakil Dewan Pengarah dan ketuanya adalah saya, ada Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, ada juga Gubernur Djarot," ujar Megawati Soekarnoputri di Museum Nasional, Jl. Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (30/11/2017).


Ketika Megawati mengatakan 'Gubernur Djarot' tawa audiens pecah, Djarot juga sempat mengatakan bahwa dirinya adalah mantan gubernur. "Udah nggak, Bu," ucap Djarot.

Acara dimulai pukul 14.00 WIB di Museum Nasional, dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri, Try Sutrisno, Olly Dondokambey, dan Djarot Syaiful Hidayat. Peluncuran tiga buku seri ini berjudul, Kennedy & Sukarno, Ho Chi Minh & Sukarno, dan Mengincar Bung Besar.

Di peluncuran buku ini Megawati menceritakan bagaimana dia menjadi saksi kehidupan ayahnya Bung Karno, serta ia juga bercerita pernah bertemu dengan Presiden Vietnam Ho Chi Minh, dan Presiden Amerika John F Kennedy.


Mega juga bercerita tentang peristiwa yang dialami oleh Bung Karno pada saat peristiwa Cikini.

"Sebagai salah seorang putri Soekarno, urusan Bung Karno mungkin akan terpendam saja entah abad berapa mungkin baru dibuka, Karena kita tahu tahun 1965 ada sisi gelap kehidupan bangsa kita, kalau di salah satu judul itu yang ada eksekusi kepada Presiden pertama, saya sendiri ikut mengalami, artinya ada dalam peristiwa itu, seperti dari peristiwa Cikini," jelas Mega.

Saat Megawati Sapa 'Gubernur Djarot' di Peluncuran Buku Bung KarnoFoto: Zunita/detikcom

Megawati juga menceritakan bagaimana waktu itu kehidupan Bung Karno terancam, ada yang ingin menembak ke dalam Istana pada saat Bung Karno makan siang tapi gagal.

"Peristiwa lainnya saat ada seorang pilot yang sedang latihan, kebetulan sedang sekolah, tetapi karena suatu hal, adik saya Guruh sedang sakit, waktu itulah terjadi penyerangan di Istana Merdeka, dan kalau juga diteliti, maka ada 1 peluru, kalau kebetulan menembus, satu peluru itu dinyatakan akan mengenai tepat di kepala Bung Karno yang direncanakan di ruang makan, namun saat itu Bung Karno lagi rapat di DPA yang berada di lingkungan Istana juga," ungkapnya.


Selain itu, Mega juga bercerita perkenalannya dengan Ho Chi Minh pada waktu bertemu Bung karno di Istana Presiden.

"Kami ini dianggap sebagai anak Istana, kami disuruh rapi, harus bersepatu, tidak boleh bersandal, saat kami dikenalkan dengan Ho Chi Minh, kami dikenalkan dengan sapaan Bak Ho (Paman), datang dan saya langsung berbisik ke ayah saya, 'kenapa bak ho itu memakai sandal?' Kata ayah saya 'jangan keras-keras ngomongnya?' Lantas saya bilang, 'apa tak punya sepatu ya?' kata Bung Karno, 'ya nanti diterangkan', lalu saya bilang, 'ya bapak belikan sepatu dong'. Lalu itu dikatakan ke Paman ho, kata Paman Ho 'nanti ya kalau vietnam itu sudah menang, kamu kirimkan sepatu buat saya' itu perkenalan saya dengan Paman Ho orang yang akrab dan cinta anak-anak," imbuhnya.

Terakhir, Mega menjelaskan mengenai pertemuannya dengan John F kennedy yang bertemu pada saat konferensi non blok pertama di Beogard, Mega saat itu menjadi delegasi termuda berusia 14 tahun.

"Berikutnya dengan Kennedy, saya bertemu dengan Kennedy, karena waktu konferensi nonblok pertama di Beograd, saya menjadi delegasi termuda di situ, padahal umur saya di situ 14 tahun. Dan di situlah saya ketemu dengan Presiden Kennedy yang hangat dan handsome, tapi saya tidak bertemu dengan Ibu Negara nya, langsung akrab, dan saya dibawa keliling White House. Saya tanya ke ayah saya, 'apa yang dibicarakan?' Ayah saya jawab 'banyak hal' katanya Kennedy saat itu dia mengerti apa saja yang dibutuhkan oleh negara-negara yang baru merdeka," tutupnya. (tor/tor)