DetikNews
Selasa 28 November 2017, 21:34 WIB

Pengacara Bantah Jasriadi Curi Identitas untuk Sebar Hate Speech

Denita Br Matondang - detikNews
Pengacara Bantah Jasriadi Curi Identitas untuk Sebar Hate Speech Tersangka bos Saracen, Jasriadi, didampingi pengacara (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Jasriadi disebut mencuri dari KTP, SIM, ijazah, paspor, hingga BPJS untuk membuat sejumlah akun Facebook palsu. Pengacara tersangka bos Saracen itu, Henry Kurniawan, membantah dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan kliennya untuk menyebarkan ujaran kebencian (hate speech).

Henry mengatakan kliennya hanya meretas akun pornografi penyebar virus dari Vietnam. Jasriadi meretas akun tersebut untuk menyerang balik penyebaran virus yang dilakukan akun pornografi tersebut.


"Itu kan dari Vietnam, akun porno penyebar virus, itu di-hack, akhirnya balik lagi untuk menyerang, itu ada beberapa ribu," kata Henry di gedung Direktorat Tipiditsiber Bareskrim Polri, Jalan Jatibaru, Cideng, Jakarta Pusat, Selasa (28/11/2017).

"Ini kan Bareskrim bilang orang, padahal akun-akun Vietnam itu. Beberapa ratus ribu itu di-hack supaya tidak bikin virus di Indonesia," sambungnya.

Henry mengatakan Jasriadi akhirnya menggunakan data dari hasil retasan itu untuk membuat sejumlah akun Facebook lain. Tetapi Henry enggan berkomentar soal tujuan akun Facebook itu dibuat.


Henry lalu mempertanyakan pasal yang disangkakan kepada kliennya. Menurutnya, Jasriadi tidak terkait dengan pasal penyebaran ujaran kebencian. Namun, menurutnya, Jasriadi hanya melakukan dugaan tindak pidana illegal access.

"Kita tanyakan pasalnya kan Pasal 46, bukan ujaran kebencian, kan illegal access, selama ini kan di media kan ujaran kebencian. Nah, sekarang Pasal 46 illegal accsess, bukan ujaran kebencian. Ini yang dapat kami katakan," ucap Henry.

Untuk diketahui, Pasal 46 UU ITE yang dimaksud secara garis besar mengatur tentang ancaman hukuman bagi pelanggar Pasal 30 UU ITE. Sedangkan Pasal 30 berisi tentang illegal access, yang terdiri atas tiga ayat dengan derajat pelanggaran yang berbeda.


Awalnya, Jasriadi ditangkap atas kasus ujaran kebencian. Setelah dilakukan pengembangan, Jasriadi dikenai pasal berlapis. Jasriadi dianggap melanggar Pasal 30 tentang akses ilegal, Pasal 32 tentang gangguan informasi, dan Pasal 35 pemalsuan dokumen UU ITE Nomor 11 Tahun 2008. Pasal 46 sendiri menjelaskan hukuman untuk pelanggaran Pasal 30.
(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed