"Kondisi yang kita hadapi, bangsa kita yang kita lihat, yang kita rasakan sehari-hari, dan jangan menganggap Prabowo ini membakar-bakar. Saya hanya menyampaikan masalah yang kita alami, bangsa kita akhir-akhir ini termasuk bangsa yang kalah," ujar Prabowo, Kamis (16/11/2017).
Hal ini disampaikan Prabowo dalam orasi ilmiahnya di Dies Natalis XVIII dan Wisuda XV Universitas Bung Karno (UBK) di Balai Sudirman, Jalan Dr Sahardjo, Tebet, Jakarta Selatan. Prabowo menyampaikan pidato dengan tema 'Membangun Kesadaran Nasional'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo mengawali analisisnya dengan menyebut prestasi olahraga Indonesia di dunia internasional. Indonesia kalah dalam beberapa perhelatan olahraga internasional.
"Sepakbola kalah, SEA Games kalah, negara dengan 250 juta penduduk kalah sama Singapura negara dengan 5 juta penduduk. Dan yang hebat, elite kita santai, diam, seolah-olah wajar negara kita 260 juta kalah dengan negara 50 juta," kata Prabowo.
Prabowo memandang olahraga sebagai cermin dari kesehatan, kekuatan fisik, dan kekuatan jiwa anak-anak bangsa. Hal ini menunjukkan Indonesia lemah dalam olahraga dan belum lagi di bidang lainnya.
"Olahraga cermin dari kesehatan anak-anak itu, cermin kekuatan fisik anak-anak kita, kekuatan jiwa anak-anak kita. Belum lagi ke bidang-bidang yang lain," tuturnya.
Prabowo juga mengambil satu cermin perbandingan yang menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Luas Indonesia sebanding dengan luas negara-negara Eropa Barat.
"Kita menguasai hampir sepertiga kawasan tropis dunia, kita bisa panen setahun. Apa negara yang begini luas, yang dikasih kelebihan oleh Yang Mahakuasa masak harus impor garam? Kita impor bawang merah, kita impor daging," sebut Prabowo.
"Saudara-saudara sarjana, apakah bangsa yang 72 tahun merdeka ini tidak bisa melihara ternak? Bagaimana bisa negara agraris para petaninya mau panen tidak boleh jual. Yang diizinkan jual adalah gula impor dari luar negeri. Kalau kita bicara kesadaran nasional mari kita berani uraikan kelemahan kita," imbuhnya.
Prabowo mengatakan penting untuk menyadari kelemahan sendiri. Menyadari kelemahan adalah awal membangun kekuatan.
"Hampir di setiap bidang kita ini sesungguhnya bangsa yang tidak kuat. Mengakui kelemahan adalah awal membangun kekuatan," tegasnya. (jbr/jbr)











































