Lelah, Syafi'i Tak Calonkan Diri Lagi Jadi Ketum Muhammadiyah
Rabu, 01 Jun 2005 02:43 WIB
Jakarta -
Di usianya yang sudah mencapai 70 tahun, Syafi'i Ma'arif merasa lelah. Dia tidak akan ikut lagi mencalonkan diri sebagai ketua umum Muhammadiyah."Telapak kaki saya sudah letih. Saya akan lebih berkonsentrasi menulis buku atau pun kegiatan lainnya. Selagi ada waktu, kegiatan apa pun yang bermanfaat dapat dilakukan," katanya.Syafi'i juga menegaskan tidak akan mendukung salah satu calon ketua umum Muhammadiyah. Hal itu disampaikan dia dalam acara perayaan ulang tahunnnya bertajuk "Refleksi 70 Tahun" di Hotel Arya Duta, Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (31/5/2005).Acara yang berlangsung tanpa dihadiri mantan Ketua Umum Muhammadiyah Amien Rais itu berlangsung cukup meriah oleh sekitar 500 tamu. Menurut seorang panitia acara, Amien tidak hadir karena sakit.Sejumlah tokoh negeri ini tampak hadir, antara lain Hasyim Muzadi, Hidayat Nurwahid, Akbar Tandjung, AM Fatwa, Try Sutrisno, Sutrisno Bachir, Bambang Sudibyo, Hatta Radjasa, Muhaimin Iskandar, Salahuddin Wahid, dan Eep Saefullah Fattah beserta istrinya Sandrina Malakiano.Acara yang berlangsung selama tiga jam sejak pukul 19.00 WIB ini berisikan peluncuran buku dan testimonial terhadap Syafi'i oleh sejumlah koleganya. Turut memberikan testimonial adalah Wakil Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Umum Nadhlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi.Pada testimonialnya, Din menyebut Syafi'i sebagai sosok yang mempunyai sifat sederhana dan penuh dedikasi. Dia menganalogikan sifat itu dengan mobil yang dimiliki oleh Syafi'i yang hanya berupa Toyota Kijang tua."Anak-anak Muhammadiyah merasa gerah dengan pemimpinnya yang memakai mobil itu. Lalu diputuskan untuk mengganti mobil itu. Namun Syafi'i tetap jarang memakai mobil itu dan lebih sering memakai mobil lamanya," kata Din dengan nada canda.Sedangkan Hasyim menjelaskan bahwa NU dan Muhammadiyah tidak ada perbedaannya. Kalau pun ada, itu terletak pada metodologinya. Lebih lanjut, Hasyim menceritakan pengalamannya yang disambut gelak tawa hadirin."Saya disuruh ke Thailand untuk mendamaikan konflik di sana. Saya bingung, kenapa saya yang disuruh, padahal di NU saja ribut-ribut," katanya.Puncak acara itu adalah pidato dari Syafi'i. Dia menceritakan pengalaman hidupnya. Dia mengaku tidak pernah menyangka bahwa dirinya yang merupakan orang desa menjadi sosok seperti sekarang ini."Tidak terpikirkan sekali pun saya seperti ini. Saya hanya orang kampung. Berpidato di masjid kampung saja saya sudah bangga. Tapi sekarang saya berpidato di depan menteri," katanya.
(sss/)










































