"Generasi muda perlu lebih mengenal kearifan seorang Gus Dur. Gus Dur ini akan menjadi salah satu sumber oase menyegarkan bagi generasi milenial, tidak hanya saat berselancar di dunia maya tetapi juga ketika berinteraksi dalam realitas nyata," ujar Staf Khusus Mendikbud Fajar Riza Ul Haq kepada wartawan, Kamis (9/11/2017).
Fajar menambahkan, generasi muda saat ini kerap terlena dengan segala informasi di media sosial. Acapkali, generasi muda tidak menyaring informasi yang masuk sehingga berpotensi menimbulkan permusuhan. Oleh sebab itu, perlunya generasi milenial meneladani Gus Dur.
"Gus Dur selalu bilang tidak menyukai kekerasan. Ungkapan ini mencerminkan komitmen Gus Dur untuk selalu menolak kekerasan dan lebih percaya kepada mekanisme demokrasi. Gus Dur juga melarang pendukung politiknya untuk mempertahankan posisinya sebagai presiden dengan cara-cara yang tidak demokratis dan kekerasan," sebutnya.
Fajar mencontohkan, Gus Dur tak sungkan meminta maaf atas peristiwa tahun 1965 dalam kapasitasnya sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Menurut Fajar, Gus Dur sosok yang konsisten menyuarakan nilai-nilai ke-Indonesia-an.
"Gus Dur menginginkan adanya rekonsiliasi agar hal serupa tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Saat mengunjungi Timor Leste pada 2001 dalam kapasitas sebagai presiden, Gus Dur pun tak berat untuk meminta maaf atas sejumlah kekerasan yang pernah terjadi," tuturnya. (dkp/rvk)











































