"Itulah gambarannya bahwa pemberantasan korupsi kita sangat kencang," kata JK di hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (2/11/2017).
Meski serius dalam pemberantasan korupsi, namun JK berharap tidak ada salah penafsiran tentang jumlah keberhasilan orang-orang yang berhasil dihukum akibat korupsi.
"Soal korupsi. Kalau dilihat ada selalu penafsiran yang keliru. Menurut saya salah kaprah, seakan akan keberhasilan suatu negara berantas korupsi apabila banyak orang dihukum. Apabila banyak orang didenda apabila banyak ditahan. padahal itu semua kegagalan. keberhasilan ya kalau kurang orang korupsi. Kurang orang ditahan," terangnya.
"Kalau ukuran banyaknya orang ditahan, maka tidak ada negara di dunia ini sehebat Indonesia. Tidak ada negara sehebat Indonesia," tambahnya.
Dia juga menyinggung soal maraknya operasi tangkap tangan di daerah. JK menganggap daerah mengira tidak dipantau oleh penegak hukum.
"Tapi di daerah mesti agak sembrono dikira di daerah jauh dari KPK, gampang disadap walaupun di daerah itu. Tapi nilainya makin kecil, dulu miliaran, sekarang ratusan juta. Ada puluhan juta. Masuk juga," ujarnya.
Namun, JK yakin ke depan kasus korupsi akan menurun akibat ketegasan dari para penegak hukum seperti KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung.
"Apabila diukur dari jumlah orang yang ditangkap, kita bukan rekor MURI, Kita rekor dunia (banyaknya) jumlah yang ditangkap," kata JK. (fiq/idh)











































