DetikNews
Senin 30 Oktober 2017, 15:35 WIB

Fadli Zon Balas Menkes dan Susi: Kritik Revolusi Putih Menggelikan

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Fadli Zon Balas Menkes dan Susi: Kritik Revolusi Putih Menggelikan Waketum Gerindra Fadli Zon (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Waketum Gerindra Fadli Zon membalas kritik Menkes Nila F Moeloek serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal gerakan 'Revolusi Putih' gagasan Prabowo Subianto. Fadli menilai semestinya Menkes dan Susi tak membenturkan gerakan minum susu dengan konsumsi ikan.

"Seharusnya Menteri Kesehatan atau Menteri Kelautan dan Perikanan tidak membenturkan konsumsi susu dengan konsumsi ikan. Apalagi usulan gagasan Revolusi Putih kepada Gubernur DKI Jakarta itu ditujukan untuk perbaikan gizi anak-anak di DKI, bukan untuk 250 juta penduduk Indonesia," ujar Fadli melalui keterangan tertulis, Senin (30/10/2017).


"Sehingga membenturkan konsumsi susu dengan produksi sapi nasional yang kecil adalah pernyataan yang sangat menggelikan. Tidak sepadan. Pernyataan itu sebenarnya justru mempermalukan pemerintah sendiri," sambung Fadli.

Fadli menyebut gerakan minum susu sudah ditetapkan menjadi Hari Susu Sedunia. Karena itu, menurut Fadli, program Revolusi Putih yang digembar-gemborkan Prabowo masih masuk akal.

"Sejak 2001, untuk mengkampanyekan pentingnya susu sebagai sumber asupan gizi, FAO telah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Susu Sedunia. Di Indonesia, kita mengadopsinya sebagai Hari Susu Nusantara yang diperingati sejak tahun 2009. Di luar Hari Susu Sedunia, banyak negara juga memperingati Hari Susu Sekolah Sedunia tiap tanggal 27 September," beber Fadli.

Bahkan Fadli menyebut berbagai lembaga pelayanan kesehatan juga mengampanyekan pentingnya susu bagi anak, seperti posyandu dan sejumlah rumah sakit di Indonesia dengan program 4 sehat 5 sempurna. Menurut Fadli, kritik terhadap Revolusi Putih Prabowo membuat Menkes terlihat konyol.

"Sehingga, saya kira sangat konyol dan kontraproduktif jika ada menteri kita mengatakan agar jangan minum susu, hanya karena jumlah sapi kita sedikit," sindir Fadli.


Fadli menyebut Gerindra telah mengkampanyekan gagasan Revolusi Putih sejak 2008 sebagai bentuk kepedulian atas tingginya angka gizi buruk di Indonesia. Fadli juga menyindir beberapa pernyataan Menkes Nila.

"Menteri Kesehatan sendiri yang mengatakan jika 4 dari 10 anak Indonesia masih mengalami gizi buruk. Berdasarkan Global Nutrition Report (2014), 37,2% balita mengalami pertumbuhan kerdil (stunting), 12,1% pertumbuhan kurang dari standar usianya (wasting), dan 11,9% mengalami kelebihan berat badan (overweight). Menurut data yang saya baca, angka tingkat bayi stunting ini berkorelasi dengan angka rendahnya konsumsi susu nasional," ucap Fadli.

Ditambahkan Fadli, masalah gizi buruk menjadi salah satu faktor tidak lolosnya Indonesia dalam program Millennium Development Goals 2015. Padahal pemerintah telah menggelontorkan anggaran yang tak sedikit waktu itu untuk menangani masalah gizi ini, terutama untuk ibu dan anak. Ironisnya, kata Fadli, Jakarta berada di urutan kelima nasional wilayah dengan angka gizi buruk tertinggi.

"Itu sebabnya kami mengusulkan gagasan Revolusi Putih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang baru. Demi memperbaiki kualitas kesehatan anak-anak kita di masa depan," cetus Fadli.
(gbr/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed