Kriminolog UI: Bom di Poso Libatkan AS

Kriminolog UI: Bom di Poso Libatkan AS

- detikNews
Minggu, 29 Mei 2005 09:06 WIB
Jakarta - Bom yang meledak di Pasar Tentena, Poso melibatkan Amerika Serikat (AS). AS sangat diuntungkan apabila Indonesia dalam keadaan tidak aman, yakni memudahkan terjadinya intervensi. Dalam keadaan tidak aman ini juga, investasi yang dilakukan AS dapat lebih murah."AS berusaha menyudutkan Indonesia. AS memiliki banyak data potensi konflik di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan AS dengan pertimbangan sumber daya alam Indonesia yang sangat potensial," kata Kriminolog UI Erlangga Masdiana ketika dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (29/5/2005).Selain senantiasa mempertahankan kondisi keterpurukan Indonesia di mata Internasional, peledakan bom ini digunakan AS untuk menyatukan pendapat bahwa pelaku terorisme hanya dilakukan oleh kelompok Islam.Untuk menyikapi hal ini, menurut Erlangga, intelijen Indonesia harus dibenahi. Kelemahan intelijen ini dimanfaatkan pihak AS untuk kepentingannya. "Intel Indonesia punya banyak kelemahan, sedangkan AS punya banyak data. Hal ini yang dimanfaatkan AS. AS mempunyai agenda tersendiri untuk mempengaruhi rasa aman di Indonesia dalam konteks pembangunan politik dan ekonomi ke depan," jelasnya.Seringkali peristiwa terorisme, lanjutnya, terjadi setelah AS menyatakan akan ada ancaman terhadap suatu lokasi di suatu negara. Terkait dengan itu, dalam beberapa hari ini AS menutup kedutaannya di Indonesia dengan alasan keamanan. Tak lama setelah itu, terjadi peledakan bom di Poso. Hal ini patut dicurigai."Misalnya sebelum peristiwa bom Bali. AS memperingati bakal ada ancaman keamanan di Indonesia. Sebelumnya juga terjadi peledakan bom di Makassar dan tempat lainnya. Lebih kongkretnya, tidak ada orang Yahudi yang terbunuh saat runtuhnya World Trade Center," ungkapnya.Selain sebagai bukti kelemahan, polisi yang bertugas untuk menjaga stabilitas keamanan sulit diandalkan. Erlangga berpendapat, polisi masih sangat belum mandiri. Hal ini menyebabkan segala macam persoalan keamanan di Indonesia masih terus berlanjut. Polisi lebih memperhatikan kekuatan borjuis."Tinggal pada kejujuran aparat sendiri, apakah memilih keamanan masyarakat atau kelompok yang memiliki agenda dan kekuasaaan," tukasnya. (atq/)


Berita Terkait