Sudah Setahun Jembatan di Serang Ini Rusak, Warga Tunggu Bantuan

Sudah Setahun Jembatan di Serang Ini Rusak, Warga Tunggu Bantuan

Muhammad Iqbal - detikNews
Senin, 23 Okt 2017 17:23 WIB
Sudah Setahun Jembatan di Serang Ini Rusak, Warga Tunggu Bantuan
Penampakan jembatan rusak (Foto: Muhammad Iqbal/detikcom)
Serang - Jembatan yang menghubungkan dua desa di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, sudah setahun rusak terbengkalai. Warga dan pihak desa kini menunggu bantuan dari para dermawan.

Menurut Kepala Desa Umbul Tanjung, Kutbi, warga dari kedua desa sempat bergotong royong untuk memperbaiki jembatan ini. Namun kemudian jadi terbengkalai saat ada warga yang mencoba mencari bantuan pembangunan lewat sebuah yayasan.

"Rencananya mau dibangun lagi cuma nggak mewah-mewah gitu mau dicor biasa paling satu meter lah," ungkap Kutbi saat diwawancarai di lokasi, Senin (23/10/2017). Dia menyebut para warga berharap ada dermawan yang tergugah untuk membantu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah Setahun Jembatan di Serang Ini Rusak, Warga Tunggu BantuanPenampakan jembatan rusak (Foto: Muhammad Iqbal/detikcom)

Kutbi mengatakan, peran jembatan ini sangat penting untuk menunjang aktivitas warga. Jembatan ini selama ini jadi jalan pintas dua desa yakni Desa Umbul Tanjung dan Desa Pasauran.

Dengan terbengkalainya pembangunan jembatan ini, warga Desa Umbul Tanjung dan Desa Pasauran terpaksa berjalan melewati jalan utama yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer.

Pantauan detikcom, jembatan ini kondisinya sangat memprihatinkan karena rusak berat. Jembatan terbuat dari bambu dengan seutas kawat besi sebagai penyangga. Dulu warga, masih banyak yang nekat melintasi jembatan ini. Namun kini tidak lagi dan lebih memilih turun menyebrangi arus sungai.

Sudah Setahun Jembatan di Serang Ini Rusak, Warga Tunggu BantuanPenampakan jembatan rusak (Foto: Muhammad Iqbal/detikcom)

"Kalau sekarang karena (jembatan) rusak udah nggak bisa dilewatin. Harus turun ke sungai," ujar salah seorang warga sekitar, Mustofa (27). Tapi jika arus sungai deras, tak ada warga yang berani.

"Sekarang aja karena airnya surut bisa nyeberang lewat kali. Kalau lagi tinggi airnya, ya harus muter lewat jembatan utama," katanya. (bar/bar)


Berita Terkait