DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 22:31 WIB

Warga Jatipadang Sudah Minta Tanggul Permanen, tapi Belum Dibangun

Yulida Medistiara - detikNews
Warga Jatipadang Sudah Minta Tanggul Permanen, tapi Belum Dibangun Suasana pengungsi banjir akibat tanggul karung jebol. (Yulida/detikcom)
Jakarta - Tanggul karung di Jatipadang, Jakarta Selatan, jebol karena tak kuasa menahan derasnya air yang meluap dari kali. Camat Pasar Minggu Agus Irwanto mengaku sudah mengajukan protes ke Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan, namun belum ada realisasinya.

Akhirnya, pihaknya meminta bantuan Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Jakarta Selatan dan petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU). Tanggul sementara itu terbangun.

"Sudah ada penanganan melalui UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Jaksel dan PPSU. Telah melakukan kegiatan pengerukan atau pendalaman di kali tersebut," kata Agus di tempat pengungsian warga di Masjid Al-Ridwan, Jl Masjid Al Ridwan, Jatipadang, Jakarta Selatan, Kamis (19/10/2017).

Ia mengatakan petugas UPK hanya berwenang membantu menyingkirkan sampah dan melakukan pengerukan. Namun tanah sisa pengerukan itu akhirnya ditumpuk di dekat kali. Setelah itu ditumpuk lagi dengan karung berisi pasir sehingga terbentuk tanggul sementara.

Agus mengatakan masyarakat tidak puas dengan hanya ada tanggul sementara. Karena itu, pihak kecamatan meminta Dinas SDA membangun turap.

"Namun pihak kecamatan dan lurah beserta masyarakat menginginkan penagnanan yang lebih komplet. Yaitu pembuatan turap yang menjadi kewenangan Dinas Tata Air Jaksel yang hingga saat ini hanya berupa janji. Kami sangat menyesalkan keterlambatan respons Dinas Tata Air," ucapnya.

Sementara itu, Lurah Jatipadang Novianto menyebut lamanya pembangunan turap karena Dinas SDA mau membangun trase terlebih dulu. Namun pembuatan trase itu akan dilakukan serempak dari arah Ragunan atau dari arah Pejaten Barat terlebih dulu. Bahkan, menurut Novianto, Dinas SDA kekurangan anggaran.

"Alasan teknis dari Dinas Tata Air anggarannya nggak ada. Ini kita mau sekalian saja bikin trase. Mereka katanya mau melakukan pelebaran kali kalau sudah ada trase. Katanya mau diukur dari Ragunan dulu atau Pejaten Barat saya lupa," kata Novianto.

"Saya tanya kapan masuk ke Jatipadang, petugas sebelumnya bilang secepatnya, mungkin November atau Oktober akan masuk. Misalnya idealnya 20 meter tapi kita maunya propose 12 meter supaya bisa cepat," ucap Novianto.

Agus mendesak Dinas SDA merealisasikan janjinya. Dia juga meminta agar pembangunan trase dan turap dipercepat dengan mengukur trase dari segi lebar visibilitas, misalnya 3 meter ke kanan dan kiri dari kali.

"Menurut saya, dipercepat saja kalau turap harus trase dulu itu kenapa nggak lakukan. Ya jangan bicara ideal. Pokoknya 3 meter kanan-kiri baguslah," ujarnya.
(yld/idh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed