Kriteria Pimpinan Muhammadiyah: Cendekia, Ulama, dan Muda

Kriteria Pimpinan Muhammadiyah: Cendekia, Ulama, dan Muda

- detikNews
Kamis, 26 Mei 2005 18:47 WIB
Jakarta - Muktamar Muhammadiyah di Malang Juli 2005 nanti akan memilih pemimpin baru PP Muhammadiyah. Apa kriteria calon ketua Muhammadiyah untuk lima tahun mendatang? Sang calon setidak memiliki kriteria sebagai cendekia, ulama, dan masih relatif muda. Demikian pendapat yang mengemuka dalam diskusi media bertema 'Tajdid Kepemimpinan Muhammadiyah' dengan narasumber Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta Husni Thoyyar dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Abdul Mu'ti di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (26/5/2005). Menurut Mu'ti, sebaiknya Muhammadiyah lima tahun mendatang dipimpin oleh figur-figur baru yang lebih segar. Rekomendasi sidang Tanwir Muhammadiyah di Mataram beberapa waktu lalu menuntut pembeliaan dalam kepemimpinan Muhammadiyah, dengan memberi kesempatan kepada wajah-wajah baru yang relatif muda, mempunyai semangat untuk berkhitmat di Muhammadiyah. "Jika Buya Syafi'i Ma'arif tidak mau lagi menjabat, maka dengan sendirinya muktamar akan memilih pimpinan baru. Harapannya terdapat fleksibilitas dan fungsionalisasi," tambahnya.Muhammadiyah, lanjut Mu'ti, mempunyai tradisi yang unik, yakni peserta tidak memilih ketua umum tetapi formatur yang berjumlah 13 orang. Jika dibutuhkan bisa ditambah 6 orang. Sejak muktamar di Yogyakarta, Muhammadiyah mempunyai tradisi bahwa yang terbanyak meraih dukungan di formatur menjadi ketua umum. Tetapi dalam sejarah sejak berdiri, dalam usia yang hampir 100 tahun, Muhammadiyah baru mempunyai 13 ketua sejak KH Ahmad Dahlan. Sebagai contoh, dalam Kongres ke-26 di Yogyakarta, Kiai Hisyam mundur setelah muncul desakan dari AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) agar Muhammadiyah mengadakan pembaharuan. Yang terpilih kemudian menjadi ketua ialah KH Mas Masyur yang berusia 40 tahun. "Pemilihan ketua umum ini enteng-entengan kok, tidak terlalu berat," tambah Mu'ti.Bagaimana tajdid kepemimpinan Muhammadiyah yang kontemporer? Thoyar berharap Muktamar di Malang berlangsung santun cerdas, produktif, lebih berkonsentrasi pada orientasi pengembangan program, serta dijauhkan dari perebutan kepemimpinan. "Ini amanat tanwir di Mataram," tambah mantan bendahara PP Muhammadiyah yang juga dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah itu. Thoyar menegaskan, muktamar ke-45 nanti menjadi momentum melakukan pembeliaan dalam kepemimpinan Muhammadiyah terkait tantangan persyarikatan yang semakin kompleks. "AR Fachruddin ketika terpilih menjadi ketua pimpinan pusat masih berusia muda," kata dia. Kriteria lain, Muhammadiyah membutuh figur yang memiliki komitmen tinggi dan mobilitas untuk memajukan persyarikatan. Menurut dia, sudah saatnya struktur pemimpin Muhammadiyah tidak diisi berdasarkan penghargaan atas ketokohan di masa lalu. "Jangan ada pemimpin seperti taplak meja, mau muktamar muncul tapi setelah muktamar tidur," terang Thoyar.Keenganan memberi ruang yang lebih luas bagi generasi lebih muda, sambung Thoyar, akan berdampak buruk bagi organisasi. "Kalau tidak begitu, berarti tertutup peluang pembeliaan. Kalau peluang ditutup regenerasi mati, insya Allah persyarikatan ini akan gugur," kata dia. Thoyar optimistis pemimpin-pemimpin muda akan bisa mendominasi kepengurusan Muhammadiyah di masa mendatang. "Ke depan, beberapa pimpinan Muhammadiyah sudah uzur, tidak mempunyai semangat besar, tidak memiliki concern, dan waktu yang lebih lapang," kata dia. Selain faktor kebeliaan, menurut Thoyar, kriteria pemimpin Muhammadiyah yang paling baik direkrut menjadi pemimpinan adalah orang yang kuat lagi terpercaya. Yang juga perlu dipertimbangkan adalah yang mempunyai kesehatan prima, tingkat intelektual yang tinggi atau tidak pas-pasan, berkeunggulan, beretos kerja tinggi, dan memiliki kekuatan manajerial. Selain itu, kata Thoyar, Muhammadiyah memerlukan pemimpin yang tidak menumpuk pada satu bidang. Sebaiknya PP Muhammadiyah nanti akan diisi oleh orang-orang dari unsur ulama dan cendekiawan. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads