Penderita Malaria di Inhil-Riau Capai 328 Pasien
Kamis, 26 Mei 2005 16:38 WIB
Pekanbaru -
Betapa banyaknya penyakit di negeri ini. Polio, lumpuh layu, busung lapar, dan penyakit yang tak kunjung hilang, malaria. Dalam lima bulan terakhir, di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil)-Riau tercatat 328 orang terjangkit malaria. Hingga saat ini ada 17 pasien yang masih mendapat perawatan intensif.Hingga saat ini masih ada pasien yang dirawat di sejumlah puskesmas. Kabupaten Inhil termasuk wilayah endemi malaria. "Namun kita belum bisa katakan malaria kembali mewabah seperti tahun 2004 yang merenggut 16 nyawa," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Ekmal Rusdi, saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, Jl Cut Nyak Dien, Pekanbaru, Kamis (26/5/2005).Sejak Januari hingga Mei 2005, penderita malaria di Inhil belum menunjukkan penurunan signifikan. Untuk Januari 2005 saja, sudah ditemukan 151 orang yang merupakan sisa dari wabah yang terjadi pada Desember 2004.Dengan penanggulangan yang gencar dilakukan, pada Februari 2005 sempat menunjukkan pengurangan penyebaran malaria karena ditemukan hanya menjangkiti 18 orang.Namun pada bulan Maret 2005, pasien malaria bertambah 36 orang dan melonjak tiga kali pada bulan April yang mencapai 106 orang. Kondisi seperti itu membuat pemerintah daerah setempat kembali melakukan pencegahan perkembangbiakan nyamuk dan pengobatan gratis bagi penduduk setempat. "Hingga Mei 2005, terhitung 17 orang masih dirawat intensif di sejumlah puskesmas," kata Ekmal.Ekmal memaparkan, di Inhil terdapat dua desa yang selalu menjadi pusat wabah malaria, yakni Desa Kateman dan Desa Mandah. Di kedua desa itu, pada tahun 2004 silam tercatat 28.660 orang terjangkit malaria. "Itu sebabnya dulu Inhil sempat kita golongkan Kondisi Luar Biasa (KLB)," katanya.Ditegaskan Ekmal, tidak semua pasien dinyatakan positif memiliki parasit malaria di dalam darahnya. Sekitar 75 persen pasien adalah pengidap malaria klinis. Untuk tipe ini, penderita hanya menampakkan gejala menggigil dan demam berlarut-larut selama beberapa hari. Dengan perawatan kesehatan yang tepat di puskesmas atau di rumah sakit, pasien dapat segera sembuh kembali."Kita mengantisipasi penyebaran malaria ini dengan membentuk tim penyuluhan di tingkat desa. Tim ini akan membantu masyarakat menjaga kesehatan diri dan lingkungan, serta membantu pengobatan cepat bagi daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas kesehatan," tutur Ekmal.
(nrl/)










































