Atasi Busung Lapar, Ekonomi NTB-NTT Bakal Dibenahi
Kamis, 26 Mei 2005 16:23 WIB
Jakarta - Busung lapar yang telah menewaskan tujuh balita di Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat pemerintah kalang kabut. Ekonomi masyarakat NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pun akan dibenahi.Bersama Pemerintah Provinsi NTB dan NTT, pemerintah pusat sepakat membuat program bersama untuk mengatasi kasus busung lapar yang terjadi di dua provinsi tersebut.Program ini diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, sehingga penyakit akibat kekurangan gizi akut yang dalam bahasa medis disebut marasmus kwarsiorkor ini tidak terjadi lagi."Kita akan bikin program bersama yang dibantu pemerintah pusat, seperti bibit apa yang cocok ditanam di sana," ujar Wapres Jusuf Kalla dalam jumpa pers di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (26/5/2005).Untuk jangka pendek, lanjut dia, pemerintah akan mengupayakan perbaikan ekonomi masyarakat secara keseluruhan, yaitu dengan meningkatkan daya beli masyarakat dan mengimbau masyarakat agar tidak mengandalkan sektor pangan saja.Namun menurut Kalla, program tersebut akan dipelajari terlebih dahulu, terutama untuk di daerah NTB, sebab secara regional, NTB termasuk daerah surplus. "Saya nanti akan bicara dengan gubernur NTB, kriterianya gimana. Kita lihat apa yang paling segera dibutuhkan masyarakat," katanya.Dari 51 bayi berusia di bawah lima tahun (balita) yang mengalami gizi buruk selama Januari-Mei 2005 di NTB, tujuh di antaranya meninggal dunia. Bayi malang itu meninggal karena menderita kekurangan kalori dan protein amat parah. Hal tersebut ditandai dengan perubahan fisiknya yang sudah mencapai tingkat marasmus kwarsiorkor atau busung lapar.Penyebab gizi buruk yang umumnya menimpa anak balita antara lain adalah rendahnya tingkat pendapatan alias daya beli penduduk, sanitasi dan lingkungan yang juga berkaitan dengan sosial budaya atau kebiasaan, serta pola asuh gizi yang keliru.Kondisi ini sangat ironis mengingat NTB merupakan salah satu daerah di Indonesia yang cukup baik hasil pertaniannya, yakni surplus beras. Dengan areal tanam 322.388 hektar, NTB menghasilkan 1.457.226 gabah kering giling (GKG) atau setara 734.442 ton beras setahun.Dari total produksi itu, 527.497 ton beras untuk konsumsi lokal provinsi berpenduduk 4.127.519 jiwa tersebut, atau masih ada surplus 206.945 ton. Jadi, kasus 7 balita meninggal karena busung lapar di NTB bisa dikatakan bak ayam mati kelaparan di lumbung padi. Sungguh ironis!
(umi/)











































