DetikNews
Selasa 26 September 2017, 09:41 WIB

Aneka Peristiwa Penyerangan Polisi yang Sedang Bertugas di Lapangan

Yulida Medistiara - detikNews
Aneka Peristiwa Penyerangan Polisi yang Sedang Bertugas di Lapangan Upacara Militer penghormatan digelar mengantarkan kepergian Bripda Imam, korban bom Kampung Melayu. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Polisi menganggarkan pengadaan pistol sebanyak 15.000 pucuk karena aparat kepolisian yang berjaga dianggap membutuhkan untuk menjaga dirinya saat bertugas. Sebab dalam beberapa peristiwa, polisi yang berjaga seperti Polantas dan Sabhara kerap menjadi sasaran serangan orang tak dikenal.

"Untuk patroli, petugas penjagaan, dan Polantas," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/9/2017).


Sejumlah peristiwa teror dan kejahatan jalanan kerap menjadikan polisi sebagai target. Tak hanya itu, polisi pun sering kali menjadi korban saat menghadapi penjahat.

Seperti teror bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Rabu (24/5) malam. Saat itu polisi sedang mengamankan pawai obor di sekitar lokasi.

Ada tiga polisi yang meninggal dalam peristiwa tersebut, yakni Bripda Imam Gilang Adinata, Ridho Setiawan dan Taufan Tsunami. Sementara itu dari pihak sipil ada 2 orang yang meninggal yang diduga merupakan pelaku ledakan. Jumlah korban luka mencapai 10 orang yakni 5 anggota Polri dan 5 warga sipil.

Dua orang terduga pelaku bom bunuh diri diduga menggunakan bom panci. Ada dua kali ledakan yang terjadi di Kampung Melayu pada Rabu (24/5) malam. Ledakan pertama terdengar pada pukul 21.00 WIB dan ledakan kedua berselang 5 menit setelahnya yaitu 21.05 WIB. Pasca kejadian bom tersebut, Polri memerintahkan anggota tetap waspada dalam menjalankan tugas pengamanan di lapangan.

"Memerintahkan personel Polri untuk tetap waspada dan dalam melaksanakan tugas tidak sendiri atau ada buddy system yang melekat," ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul saat dihubungi, Kamis (25/5/2017).

Selain ledakan di Kampung Melayu, ada pula serangan lainnya, yakni yang terjadi di Mapolres Banyumas pada Selasa (11/4) pukul 10.10 WIB. Pria bercadar yang diketahui bernama M Ibnu Dar nekat masuk ke Mapolres Banyumas menggunakan motor.

Dia menyerang polisi menggunakan pedang. Dua anggota Satreskrim Polres Banyumas terluka akibat sabetan pedang.

Dalam melakukan aksinya, pelaku meneriakkan kata 'Thagut' dan mengacungkan pedang.

"Teriak Thagut, Thagut, gitu," kata Kapolres Banyumas AKBP Aziz Andriansyah usai penggerebekan rumah Ibnu di Desa Karangaren, Kecamatan Kutasari, Purbalingga.

Dia segera ditangkap setelah menerobos masuk dan menyerang 2 polisi, Bripka Irfan dan Bripka Karsono, dengan menggunakan parang.

Peristiwa lainnya adalah serangan ke Satuan lantas di Polres Tuban. Sebanyak enam orang melakukan penyerangan dengan menembaki anggota Sat Lantas Polres Tuban di wilayah Jenu, Tuban, pada Sabtu (8/4). Mereka menumpang mobil Daihatsu Terios dengan nopol H 9037 BZ yang disewa dari Semarang.

Setelah dilakukan pengejaran dan penghadangan, mobil Terios ditinggalkan pelaku di tepi jalan. Seluruh penumpang dan sopirnya kabur ke kebun di sekitar perkampungan Desa Beji, Kecamatan Jenu. Brimob dan Densus Antiteror 88 melakukan pengepungan dan menewaskan 6 orang tersebut. Satu pelaku bisa diketahui karena polisi menemukan paspornya di dalam mobil yang ditinggalkan yaitu Satria Aditama, asal Semarang, Jawa Tengah.

Kasus lainnya adalah penyerangan terhadap Kapolsek Tangerang Kota Kompol Effendi dan 4 anggotanya di Jl Perintis Kemerdekaan, Kota Tangerang. Penyerangan dilakukan saat Kompol Effendi dan empat anggotanya melakukan pengamanan demo.

Pelaku yang diketahui bernama Sultan Azianzah (22) datang dan menyerang kelima korban dengan senjata tajam jenis golok. Keempatnya terluka sebelum akhirnya pelaku ditembak kakinya. Penyerang diduga adalah teroris.

Kelima korban penyerangan ini adalah Kapolsek Tangerang Kompol Effendi, anggota Satuan Sabhara Iptu Bambang, anggota Satuan Sabhara Itpu Heru, anggota Lalu Lintas Aiptu Agus, anggota Lalu Lintas Brigadir S Airifin.

Teror terhadap polisi juga pernah terjadi di Mapolresta Solo, Jawa Tengah pada 2016 lalu. Pelaku menerobos halaman Mapolresta menggunakan sepeda motor.

Pelaku sempat dicegat oleh anggota Provos Bripka BA. Beberapa saat kemudian pelaku meledakkan bom yang dibawa di halaman SPKT Mapolresta. Akibatnya, anggota provos tersebut terluka. Sementara pelaku bom bunuh diri langsung tewas. Sebelum melakukan aksinya, pelaku sempat mengucapkan kalimat syahadat.

"Tidak sampai terjadi percakapan. Pelaku mengucapkan syahadat setelah itu menarik sesuatu dari belakang dan terjadi ledakan," ujar Kapolresta Solo Kombes Ahmad Luthfi kepada wartawan di depan kantornya, Jl Adi Sucipto, Selasa (5/7/2016).

Kapolri pada saat itu, Jenderal Badrodin Haiti mengatakan ancaman terhadap anggota Polri memang sudah terdeteksi sebelumnya. "Kita harus tingkatkan kesiagaaan dan lakukan penyelidikan segera terhadap pelaku bom bunuh diri," kata Jenderal Badrodin saat dihubungi detikcom, Selasa (5/7).

Badrodin menyebut pihaknya memang sempat mendeteksi rencana serangan terhadap anggota Polri. Karena itu Polri sudah memberikan peringatan agar anggota Polri tetap bersiaga dan waspada.

Lalu pada awal Januari tahun 2016, Ibu Kota Jakarta dikagetkan dengan adanya peristiwa bom bunuh diri di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Salah satu titik ledakan adalah pos polisi di seberang Sarinah.

Ledakan itu terdengar sekitar pukul 10.45 WIB, Kamis (14/1/2016). Tiga jenazah tergeletak di dekat pos polisi seberang Sarinah.

Tak lama setelah itu, terjadi baku tembak antara polisi dan teroris. Salah satu hal yang berbeda dari teroris ini adalah pakaian yang dikenakan, yakni kasual dengan kaus dan celana jins.

Ada delapan orang yang tewas dalam peristiwa hari itu. Mereka adalah empat terduga pelaku teror yakni Afif, Ahmad Muhazan, Dian Joni Kurniadi, dan M Ali. Sementara empat lainnya adalah warga sipil yakni Rico Hermawan, Sugito, Rais Karna, dan Amer Ovali Taher (WN Kanada). Dalam peristiwa itu, seorang petugas polisi dikabarkan terluka.

Kasus lainnya yang mengincar polisi terjadi pada Juni 2017. Dua anggota Brimob, AKP Dede dan Briptu Syaiful, ditusuk usai salat Isya di masjid di dekat Mabes Polri. Pelaku pun ditembak mati.

Pada pukul 19.30 WIB, AKP Dede Suhatmi dan Briptu Syaiful B salat Isya di Masjid Falatehan, di dekat Lapangan Bhayangkara, Jakarta Selatan. Salat berjamaah tak hanya diikuti anggota Polisi, tapi juga masyarakat umum. Pelaku berdiri di saf tiga belakang sebelah kanan.

Usai salat, jemaah bersalaman. Pelaku ikut bersalaman. Begitu dekat dengan para korban, pelaku langsung mengeluarkan sangkur dan secara acak berteriak 'kafir kafir'.

Usai melukai kedua korban, pelaku melarikan diri ke arah Blok M Square. Namun, pelaku langsung dikejar oleh petugas Brimob lain yang berada tak jauh di lokasi. Anggota Brimob yang melakukan pengejaran mengeluarkan tembakan peringatan. Hanya saja pelaku tidak mau menyerah dan balik mengancam akan menyerang dengan sangkur. Pelaku akhirnya ditembak dan tewas di tempat. Jasad pelaku dibawa ke RS Polri Kramatjati.
(yld/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed