DetikNews
Sabtu 23 September 2017, 16:55 WIB

Updated

Debu Vulkanik Belum Keluar dari Gunung Agung, Penerbangan Aman

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Debu Vulkanik Belum Keluar dari Gunung Agung, Penerbangan Aman Foto: Dok. BNPB
Jakarta - Vulkanik ash (VA) adalah material yang sangat berbahaya dan mengganggu penerbangan pesawat jika Gunung Agung mengeluarkan VE. Kementerian Perhubungan sudah menyiapkan strategi jika VE itu muncul.

"Siang ini kami mengadakan rapat mulai dari kami sebagai otoritas dan seluruh operator yang terkait di penerbangan. Perlu kami sampaikan sampai saat ini pukul 14.00 WIB keterangan di lapangan tidak ada satu pun dikenali adanya VA. VA adalah vulkanik es. Tidak ada VA jadi di penerbangan tidak ada masalah," ujar Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso di kantor Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Banten, Sabtu (23/9/2017).

Sampai detik ini, VA tidak ada dan perjalanan udara dari dan ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dipastikan aman. Gunung Agung saat ini hanya mengeluarkan asap dan bukan VA sehingga tidak mengganggu penerbangan.

"VA itulah yang membahayakan penerbangan. VA merupakan produk di perut bumi yang keluar manakala terjadi ledakan gunung berapi. Kami dari stakeholder penerbangan sepakat selama belum ada VA, maka penerbangan normal. Wisata di Bali masih tetap aman. Tetapi kami harus buat mitigasi manakala jika terjadi adanya semburan VA," ujar Agus.


VA yang merupakan abu gunung berapi ini berbahan silika, oksigen, ferum, dan magnesium yang sangat berbahaya bagi penerbangan. Kata Agus, VA bisa berbahaya bila masuk turbin pesawat. Pantauan pilot dari dalam pesawat juga bisa terganggu, sehingga kecepatan pesawat jadi sulit dikontrol.

Antisipasi atau mitigasi yang dimaksud adalah, jika terpantau adanya VA di udara, pesawat yang sudah terbang akan dipindahkan jalurnya menuju bandara lain yang tidak ada VA. Bandara tersebut juga akan ditutup.

"Manakala ada VA, kita langsung memberikan informasi seluruh destinasi Denpasar harus dipindahkan ke tempat-tempat sekitarnya, misalnya Surabaya (Bandara Juanda) tadi sudah dilaporkan GM Surabaya di sana ada slot. Kemudian ada di Lombok, Solo. Kita perkirakan saat kita menutup karena adanya VA ada 30 penerbangan menuju ke Denpasar dan kita arahkan ke yang lain jika terjadi VA," ujar Agus.

Bandara yang nantinya akan disiapkan jika terjadi VA adalah bandara di Surabaya, Solo, Lombok, dan Banyuwangi. Jika muncul VA mendadak, pengguna pesawat akan mendapatkan kompensasi, yakni akan diantarkan ke bandara lain untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.

"Bila terjadi kondisi terburuk, pertama, kompensasi disiapkan. Angkutan darat ditanggung maskapai ke beberapa tujuan, antara lain ke Surabaya melewati darat dan laut, baru akan terbang ke tempat yang bersangkutan. Melalui Lombok juga akan dibantu lewat darat dan laut ke bandara Lombok," ujar Sekretaris Perhubungan Udara M. Pramintohadi kepada wartawan.

Agus menjelaskan Perhubungan Udara sudah bekerja sama dengan BMKG untuk memperoleh citra satelit yang berguna untuk mengetahui posisi-posisi VA. Citra satelit ini sangat berguna menjadi acuan Direktorat Perhubungan Udara dalam menentukan keputusan.

Sebelumnya, detikcom menuliskan Volcanic Ash (VA) sebagai Vulkanik Es (VE). Namun Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian PVMBG, Sofie Yusmira Oktane, memberitahu bahwa yang dimaksud di sini adalah Volcanic Ash (VA), detikcom kemudian memperbaharui tulisan ini, mengganti istilah VA dengan VE.
(dnu/dnu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed