DetikNews
Jumat 22 September 2017, 17:39 WIB

Laporan Dari New York

Serunya Lobi-lobi Indonesia untuk Duduk di DK PBB

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Serunya Lobi-lobi Indonesia untuk Duduk di DK PBB Wapres JK di New York. (Taufik/detikcom)
New York - Indonesia mengkampanyekan dan berusaha masuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa 2018-2019. Lobi politik internasional dan kampanye di setiap dialog dan forum di PBB dimanfaatkan oleh Indonesia.

Kampanye untuk menjadi anggota DK tidak tetap PBB dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dibantu Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi beserta jajarannya. Hadir juga Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Ada bagi-bagi tugas yang dilakukan oleh Wapres JK. Ada puluhan pertemuan yang dihadiri oleh keduanya dan selalu pada pesan akhirnya mengingatkan pentingnya Indonesia masuk menjadi anggota tidak tetap DK PBB.

"Begini, ini sistem di sini juga seperti pemilu pilkada. Saya dukung tapi lain kali dukung saya, itu komitmen. Atau kita tagih, dulu saya dukung kau, sekarang dukung saya," kata JK menjelaskan lobi-lobi internasional Indonesia di forum PBB, New York, Amerika Serikat, Kamis (21/9/2017).




"Ada hitung-hitungannya, ada utang-piutang. Ada kita 'berutang' ada kita bayar 'utang' dan ada solidaritas juga, kayak ASEAN pastilah (mendukung)," sambungnya.

Dalam empat hari terakhir, pada setiap pertemuan dengan kepala negara atau pemerintahan, JK selalu menyelipkan pesan untuk permintaan dukungan. Perlu diketahui untuk di kawasan Asia, Indonesia harus bersaing dengan Kazakhstan dan Maladewa.

Khusus untuk Kazakhstan, Indonesia lebih dulu 'mengunci' dukungan Kazakhstan untuk Indonesia. Hal itu 'digaransi' langsung Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev kepada Wapres JK.

Sementara itu, Menlu Retno mengatakan hingga saat ini, berdasarkan perhitungan di atas kertas, jumlah suara yang didapatkan Indonesia cukup untuk duduk di DK PBB menjadi anggota tidak tetap. Untuk berada di DK PBB, Indonesia memerlukan 129 suara.

"Kita sudah memperoleh dukungan cukup besar dan kita optimistis. Bismillah, mudah-mudahan kita dapat memenangkan untuk DK PBB yang pemungutan suara akan dilakukan tahun depan," kata Retno.

Lalu berapa jumlah pasti suara Indonesia? Atas pertanyaan itu, Menlu Retno tak mau membeberkannya.

"Rahasia!" jawab Retno.
(fiq/rvk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed