Pemuda Berpolitik, Ibarat Menyalakan Lilin di Kegelapan

Pemuda di Panggung Politik

Pemuda Berpolitik, Ibarat Menyalakan Lilin di Kegelapan

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 18 Sep 2017 13:41 WIB
Pemuda Berpolitik, Ibarat Menyalakan Lilin di Kegelapan
M Qodari (Nur Indah Fatmawati/detikcom)
Jakarta - Dalam sebuah pidato, Presiden Sukarno pernah berseru, "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Tentu yang dicari si Bung adalah pemuda baik-baik, cerdas, dan berkarakter. Apakah anak-anak muda yang kini terjun atau mendirikan partai politik masuk kategori tersebut?

Meski belum ada jawaban pasti, Direktur Eksekutif Indo Barometer Qodari menyambut baik masuknya sejumlah anak muda ke panggung politik. "Bagus dan positif sekali (pemuda ke politik)," kata Qodari saat berbincang dengan detikcom, Jumat (15/9/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Yang Muda yang Mau Berpolitik

Partai politik, kata dia, harus melakukan regenerasi. Mereka harus merekrut anak muda yang potensial, baik secara intelektual maupun potensi lainnya. Kepada anak-anak muda itulah masa depan Indonesia 10 atau 20 tahun ke depan berada.

"Ini suatu harapan yang bagus karena di tengah-tengah sinisme kekecewaan terhadap kinerja parpol, ada anak muda memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Kami mendorong banyak anak-anak muda ke politik," kata Qodari.

Menurut dia, partai politik tak boleh dijauhi, melainkan harus didekati dengan masuk ke dalamnya. Pasalnya, parpol adalah pilar utama alias tulang punggung utama demokrasi. Apabila partai politiknya bagus, bagus pula pemerintahannya. Dia mencontohkan soal rekrutmen kepala daerah yang didominasi partai politik. Begitu juga seleksi sejumlah pimpinan lembaga ada di tangan partai politik melalui perwakilannya di parlemen.

Ketua DPP Partai Golkar Meutya Viada Hafid juga menyambut baik masuknya sejumlah anak muda ke panggung politik. Apalagi, selain keterwakilan perempuan, adanya anak muda di parlemen perlu perhatian serius.

"PR kita di politik dalam hal keterwakilan itu ada dua: perempuan dan anak muda. Dalam pertemuan-pertemuan parlemen, baik di tingkat regional dan dunia, memang arahnya ke sana. Terutama untuk negara-negara yang sudah selesai dengan urusan perwakilan perempuan, banyak mendorong keterwakilan anak muda," kata Meutya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini mencontohkan, negara-negara Eropa yang sudah cukup banyak perempuannya di parlemen mulai fokus bicara keterwakilan anak muda. "Sudah ada diskusi tentang perlunya memberikan komitmen misalnya 30% anak muda di dalam parlemen," kata dia.

Wakil Bendahara Umum Partai Nasional Demokrat Joice Triatman sepakat dengan Qodari. Sepuluh hingga 20 tahun ke depan panggung politik Indonesia akan diisi orang-orang yang sekarang masih dikategorikan muda.

Makin banyak politikus muda yang sukses, tentunya akan berdampak baik juga pada dunia politik Indonesia ke depannya. "Apalagi, saat ini perlu orang-orang yang menginspirasi dan menjadi teladan dalam dunia politik, agar masyarakat, terlebih lagi anak muda, tidak lagi antipati terhadap dunia politik," kata Joice, Senin (18/9/2017).

Joice mengingatkan, di masa perjuangan, Bung Karno memimpin PNI saat berusia 26 tahun. Ketika mendirikan Perhimpunan Indonesia, Bung Hatta berusia 25 tahun. Sedangkan Bung Syahrir, ketika menjadi perdana menteri pertama Indonesia, baru berusia 36 tahun.

Di era milenial seperti saat ini, ada Emmanuel Macron, yang jadi Presiden Perancis, dan Justin Trudeau sebagai Perdana Menteri Kanada. "Keduanya masih muda. Jadi menurut saya, politik tidak mengenal usia. Selama ia mampu dan punya kapasitas, ia pantas untuk jadi pemimpin," kata Joice. (erd/jat)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads