DetikNews
Minggu 17 September 2017, 17:33 WIB

Polisi Temukan 750 Ribu Konten Gay Anak di Grup Telegram Asian Boys

Mei Amelia R - detikNews
Polisi Temukan 750 Ribu Konten Gay Anak di Grup Telegram Asian Boys Foto: Polisi jumpa pers soal penangkapan pengedar video gay anak (Amel-detikcom)
Jakarta - Jaringan pengedar video gay anak (VGK) yang menjual konten pornografi anak laki-laki di bawah umur melalui akun Twitter, terafiliasi dengan grup Telegram 'Asian Boys' dari 49 negara. Sebanyak ratusan ribu konten gay anak ditemukan di dalam grup Telegram tersebut.

"Saat ini dari ketiga pelaku ini kita amankan 750 ribu images dan video gay kids yang ada di chat grup Telegram dan WhatsApp," ujar Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (17/9/2017).

Group chat Telegram dan WhatsApp tersebut beranggotakan ratusan orang. Para member grup rata-rata kaum gay dan komunitas pedofil dari 49 negara di antaranya Amerika Serikat, Panama, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Arab Saudi, Costa Rica, Turki, Sudan, Irak, dan lain-lain.

"Setidaknya ada 38 grup Telegram dan WhatsApp 'Asian Boys' yang diikuti oleh ketiga tersangka," imbuhnya.

Adi mengatakan, VGK atau video gay kids merupakan istilah yang biasa digunakan oleh komunitas penyuka sesama jenis maupun pedofilia.

Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya yang membidangi masalah pornografi anak via internet berkoordinasi dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Homeland Security Investigation Europol untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini.

"Ke depan kita akan berupaya untuk mengembangkan penanganan kasus ini, melalui kerja sama dengan FBI dan homeland security investigation, kita sharing info juga dengan mereka dan kita akan bekerja sama dengan instansi lain di dalam negeri dalam bentuk upaya pencegahan jangan sampai putra putri kita jadi kejahatan pedofil," imbuhnya.

Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengatakan, para tersangka memperjual-belikan konten pornografi gay anak yang diperolehnya dari grup tersebut.

"Jadi sumber child porn images (baik video dan gambar) yang dijual para tersangka melalui akun Twitter @VGKSale ini diperoleh dari aplikasi Telegram dan WhatsApp lokal dan jaringan internasional yang khusus mendistribusikan konten pornografi anak dengan cara sharing atau jual-belu images tersebut," papar Roberto.




Kasus ini sendiri terbongkar setelah polisi mendapatkan informasi dari masyarakat, sejak 3 September 2017 lalu. Polisi kemudian berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Aftika) Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) terkait kasus tersebut.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Ditjen Aptika Kemenkominfo untuk memblokir akun Twitter tersebut agar penyebarannya tidak masif dan meminta Twitter untuk melakukan preservasi data konten akun Twitter @VGKSale," imbuh Roberto.

Pada 5 September 2017, polisi menangkap tersangka YUL (19) di Purworejo, Jawa Tengah. YUL merupakan admin dari akun Twitter @VGKSale. Setelah itu, polisi juga menangkap pemilik akun @febrifebri745 berinisial HER (30) dan juga IK (30) pemilik akun @freeVGK69 yang juga menyebarkan konten porno anak di bawah umur.
(mei/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed