"Partai Golkar sampai hari ini belum memfinalkan (kandidat). Meskipun sebelumnya sudah menyatakan bahwa pada prinsipnya Partai Golkar akan mengedepankan kadernya. Tapi kita ingin menang, maka kita cek pada rakyat melalui lembaga survei," ujar Sekjen Golkar Idrus Marham di The Sultan Hotel, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (8/9/2017).
Untuk itu, Golkar masih menunggu survei terbaru pada September ini sebelum menentukan sikap. Sebab, menurut Idrus, hasil elektabilitas Pilgub Jabar 2018 belakangan bergerak naik-turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data yang dimiliki Golkar, elektabilitas Dedi disebut naik ke posisi kedua menyusul Deddy Mizwar, yang turun ke posisi ketiga. Namun Ridwan Kamil (RK) tetap berada di urutan pertama.
"RK tetap nomor satu, tapi turun (elektabilitasnya), kemudian Dedi (Mulyadi) menjadi nomor dua, dan Deddy Mizwar nomor tiga, tapi hampir sama dengan Dedi Mulyadi. Sehingga dengan perubahan posisi dan elektabilitas, saya kira kita akan menunggu dari hasil survei yang akan dilakukan minggu depan. Tentu kita akan lihat dari situ," papar Idrus.
Meski elektabilitas Dedi naik, Golkar belum mau menutup mata. Saat ditanya apakah mungkin Dedi Mulyadi dipasangkan dengan Ridwan Kamil sebagai cawagub, Idrus menyebut Bupati Purwakarta itu menginginkan posisi cagub atau Jabar-1.
"Minggu terakhir ini ada perubahan lagi dan posisinya Dedi ini semakin naik. Sampai pada hari ini kita belum sampai ke sana tentang itu, karena Dedi informasinya ingin nomor satu," terang dia.
Golkar masih menganalisis dinamika politik yang terjadi serta memformulasikan kondisi politik terbaru dengan berbagai kemungkinan yang ada. Golkar rencananya akan mengambil keputusan pada akhir September nanti untuk Pilgub Jabar 2018.
"Saya secara konsisten menyampaikan September. September ada 30 hari, dan sekarang ini sudah tanggal 8, berarti kita tunggu," kata Idrus.
Partai berlambang beringin itu hingga saat ini masih menargetkan bisa mendapat jatah kursi cagub. Namun, menurut Idrus, Golkar juga akan realistis melihat kondisi politik yang ada.
"Target kita itu gubernur, tapi juga tidak bisa menutup mata kondisi objektifnya wilayah, saya kira itu," tuturnya.
Mengenai poros baru yang diwacanakan Demokrat untuk PPP dan PAN, Golkar menghargai hal itu. "Adanya poros baru saya kira itu menarik, sepanjang itu belum menjadi sebuah keputusan, belum didaftarkan, saya kira Pilkada Jawa Barat memang sangat dinamis," tambah Idrus.
Golkar juga disebut masih terbuka terhadap berbagai wacana yang ada, termasuk dari kader masing-masing. Seperti juga wacana Nusron Wahid, yang menyebut Golkar mempertimbangkan Ridwan Kamil untuk maju di Pilgub Jabar.
Idrus menyebut segala wacana yang muncul sah saja. Keputusan baru resmi saat sudah ada surat penunjukan yang diteken ketua umum dan sekjen.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi sudah mengomentari soal Golkar yang belum juga memberinya rekomendasi. Golkar, menurut dia, sangat berhati-hati.
"Golkar-nya hati-hati. Saking sayangnya sama saya," ucap Dedi, Kamis (7/9). (elz/tor)











































