DetikNews
Selasa 05 September 2017, 15:28 WIB

Dipanggil Jokowi, Ketum PBNU Diajak Bahas Krisis Rohingya

Ray Jordan - detikNews
Dipanggil Jokowi, Ketum PBNU Diajak Bahas Krisis Rohingya Ketum PBNU Said Aqil Siroj (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Kepresidenan, Jakarta. Said Aqil mengaku dimintai pandangan soal krisis etnis Rohingya di Myanmar dan ujaran kebencian (hate speech).

Said Aqil mengatakan Presiden Jokowi meminta NU mendukung sikap pemerintah mengenai tragedi etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar. Said Aqil mengatakan NU akan menunggu hasil yang sedang diupayakan oleh Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, baik di Myanmar maupun Bangladesh.

"Saya katakan, Ketua AKIM dari NU yang membawahi atau mengomandoi, yang memimpin, 11 ormas. Bu Retno juga membawa poin-poin yang sifatnya kemanusiaan. Tidak pandang agamanya atau kewarganegaraannya. Yang penting kita sesama manusia juga harus saling mencegah tragedi kemanusiaan yang kita saksikan," kata Said Aqil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/9/2017).



Said Aqil mengatakan, saat ini Retno tengah melakukan upaya agar perbatasan di Bangladesh dibuka lebar untuk para pengungsi Rohingya. "Coba dulu, kalau sampai tidak didengar misi yang dibawa Bu Retno ini, barangkali Dubes Myanmar bisa dipanggil. Sampai situ dulu, nggak sampai jauh," katanya.

Said Aqil menambahkan, jika yang diupayakan Retno tidak didengar oleh Myanmar, Presiden Jokowi bisa memanggil Dubes Myanmar yang ada di Indonesia untuk dimintai keterangan.

"Saya rasa diplomasi militer nggak ada. Kalau sampai misi Bu Retno ini tidak didengar atau belum ada hasilnya, bahkan semakin parah, Presiden akan mengundang Dubes Myanmar," katanya.



Selain soal Rohingya, Said Aqil mengaku dimintai tanggapan soal ujaran kebencian, terutama di media sosial. NU diminta mendukung langkah yang diambil pemerintah untuk memerangi hate speech ini.

"Presiden mengharapkan NU mendukung, memerangi hate speech, jaringannya. Siap saya bilang. Banyak sekali anak NU yang sudah pandai, menguasai IT dengan polisilah," katanya.

Selain itu, Said Aqil menyampaikan agar Presiden Jokowi berkenan hadir dalam acara yang diadakan oleh NU.

"Ada beberapa agenda NU yang diharapkan Presiden bisa datang, yaitu peringatan Hari Santri 20 Oktober di Daan Mogot, Masjid KH Hasyim Asyari. Itu yang paling penting. Terus pencak silat Pagar Nusa, ini ketua umumnya, akan mengadakan acara apel mendukung Presiden Jokowi sampai 2019. Kami kiai-kiai NU dan pesantren di belakang Presiden Jokowi selama beliau menjalankan amanat, tugasnya, sampai tahun 2019," jelasnya.
(rjo/ams)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed