AM Fatwa, Siksa dan Damai Benny Moerdani

AM Fatwa, Siksa dan Damai Benny Moerdani

Aryo Bhawono - detikNews
Kamis, 31 Agu 2017 06:10 WIB
AM Fatwa, Siksa dan Damai Benny Moerdani
Edy Wahyono
Jakarta - 'Ini jangan diapa-apain lagi," Bisikan itu mengawali langkah Andi Mappetahang (AM) Fatwa ketika memasuki Rumah Tahanan Militer (RTM) Guntur, Jakarta Selatan, akhir 1984. Aparat keamanan menyerahkannya kepada petugas jaga di RTM setelah seharian ia diinterogasi jaksa dan diperlakukan baik-baik.

Pemeriksaan AM Fatwa dilakukan terkait penandatanganan kertas putih peristiwa Tanjung Priok 1984. Ia dan anggota Petisi 50 menuliskan korban peristiwa itu mencapai lusinan orang. Namun Panglima ABRI yang Juga Pangkopkamtib Jenderal Benny Moerdani menyebut cuma 9 orang.

Tapi bisikan itu tak bermakna apa-apa. Selama di RTM selama berhari-hari dia menjadi bulan-bulanan sejumlah oknum petugas. Siksaan dimulai menjelang tengah malam dan keesokannya ia diancam mau ditembak. C.W. Watson merekam siksaan kepada Fatwa dalam bukunya, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia.

"Ia dan beberapa orang lain dituduh menyusun kertas putih secara sembunyi-sembunyi mempertanyakan versi resmi Benny Moerdani tentang apa yang telah terjadi di Priok," tulis Watson.

Fatwa mengakui penangkapan itu dilakukan atas perintah Benny selaku Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkomkamtib). Ia mendekam di penjara selama 9 tahun dan dibebaskan pada 1993.

"Perintah itu dari Pangkopkamtib. Saya yang ditangkap, lainnya diperiksa dan diinterogasi saja," kata Fatwa saat dihubungi Detikcom, Rabu (30/8/2017).

Selama menjalani masa tahanan, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin banyak membantu dan kerap membesuknya. Bang Ali juga yang menjaga keluarganya selama ia berada di tahanan.

Ketika Benny Moerdani meninggal pada 2004, Bang Ali mengajaknya melayat. Tapi Fatwa tak dapat hadir karena tengah berada di luar kota. Tapi ia masih berkomunikasi dengan ajudan Benny.

Hubungan Fatwa dengan keluarga Moerdani terus berlanjut. Menjelang 10 tahun meninggalnya Benny Moerdani pada 2014, ia dikontak dua mantan ajudan Benny dan meminta berbicara dengan Theresa Hartini, istri Benny.

Fatwa-pun diminta untuk menulis dalam memoar 10 tahun meninggalnya Benny Moerdani tersebut. Saat acara peringatan digelar di Balai Sudirman pada 24 Oktober 2014, Fatwa-pun mendapat kehormatan untuk menerima memoar itu bersama mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan seorang lainnya.

"Hanya tiga orang yang menerima langsung dari Bu Hartini. Saya dan Try Sutrisno, satunya saya lupa," ujar Fatwa. (jat/jat)




Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads