DetikNews
Selasa 29 Agustus 2017, 21:03 WIB

Sedih, Situs Sejarah di Banda Aceh Jadi Pembuangan Tinja

Agus Setyadi - detikNews
Sedih, Situs Sejarah di Banda Aceh Jadi Pembuangan Tinja Makam bersejarah jadi tempat pembuangan tinja (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Lima makam diduga dari Kesultanan Aceh ditemukan di lokasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Banda Aceh. Makam bersejarah ini pun menjadi rusak.

Saat pengerjaan proyek, ditemukan lima makam dan nisan yang diyakini milik raja dan ulama yang meninggal pada abad ke-15-18. Pantauan detikcom, sejumlah nisan kini ditaruh di sebuah tempat tapi masih di lokasi pembangunan IPAL.

Nisan berbagai bentuk dan ukuran ini juga dipasangi garis warna kuning. Tak jauh dari sana, terlihat sejumlah pipa proyek dan lubang galian. Di lokasi juga tampak satu unit alat berat.

Arkeolog Aceh Dr Husaini Ibrahim mengatakan, ketika proses pengerukan pembangunan proyek, di sana ditemukan lima makam. Namun kini tidak diketahui keberadaannya. Para pekerja memindah lokasi makam tersebut ke tempat lain.

Sedih, Situs Sejarah di Banda Aceh Jadi Pembuangan TinjaNisan makam bersejarah (Agus Setyadi/detikcom)
"Sedangkan batu nisannya ditaruh di sini," kata Husaini saat melihat nisan di lokasi pembangunan IPAL, Selasa (29/8/2017).

Lokasi pembangunan IPAL ini terletak di Desa Gampong Pande dan Gampong Jawa, Banda Aceh. Tempat itu merupakan kawasan TPA untuk wilayah Banda Aceh. Menurut Husaini, perlu penyelamatan situs sejarah ini karena dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan dan untuk pariwisata.

"Ini mengindikasikan adanya pemakaman sebagai wujud adanya kerajaan besar Islam pada zaman dulu. Ini ada kaitan antara Gampong Pande dan Lamuri, situs kerajaan tertua di sini. Lamuri pusatnya juga berpindah kemari. Ini harus diselamatkan agar generasi muda tahu identitas diri," jelas dosen sejarah di Universitas Syiah Kuala tersebut.

Sedih, Situs Sejarah di Banda Aceh Jadi Pembuangan TinjaPembangunan pengolahan limbah tinja (Agus Setyadi/detikcom)
Batu nisan yang ditemukan ada dua bentuk dan mengindikasikan nisan ulama dan raja. Menurut Husaini, nisan ulama biasanya tidak menggunakan hiasan berbentuk bulat. Sementara milik para raja memiliki hiasan yang banyak seperti daun atau hiasan lain yang dipadukan antara unsur luar dan lokal yang ada di Tanah Rencong.

"Di sini terbukti sebagai pusat penyebaran Islam terbesar di Indonesia. Ini tidak bisa diketahui secara pasti karena tidak ada angka tahun. Kalau dilihat dari sudut bentuk batu nisan, ini bisa diprediksi abad ke-15, 16 hingga 18. Ada tiga tipe bentuk batu nisan. Kalau ini antara periode kedua dan ketiga," ungkapnya.
(fay/fay)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed