DetikNews
Kamis 24 Agustus 2017, 15:04 WIB

Tapal Batas

Ekspor Indonesia vs Impor Malaysia via PLBN Entikong, Menang Mana?

Danu Damarjati - detikNews
Ekspor Indonesia vs Impor Malaysia via PLBN Entikong, Menang Mana? PLBN Entikong. Foto: Rachman Haryanto
Entikong - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak ingin Indonesia kebanjiran produk-produk Malaysia, justru seharusnya ekspor barang ke Malaysia harus didorong. Bagaimana realitas ekspor dan impor Indonesia-Malaysia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong? Apakah produk Indonesia sudah mengalir deras ke Negeri Jiran?

Saat detikcom mengunjungi PLBN Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, Sabtu (15/8/2017), terlihat kesibukan aktivitas memasukkan barang-barang kulakan dari Malaysia ke Indonesia. Ada pula beberapa truk yang melaju ke Malaysia.


Koordinator Lapangan PLBN Entikong, Alpian, menemani kami melihat-lihat fasilitas negara yang diresmikan Jokowi pada Desember 2016 lalu ini. PLBN ini punya luas total 80.003 meter persegi. Masih ada titik-titik yang masih dibangun. Saat ini PLBN Entikong memasuki pembangunan tahap II, nilainya Rp 420 miliar.

Namun sejauh ini, pembangunan ratusan miliar Rupiah nampaknya masih dalam perjalanan menuju cita-cita ekspor. Soalnya nilai ekspor Indonesia masih belum mendominasi nilai impor dari Malaysia. Bila impor lebih besar daripada ekspor, maka itu artinya defisit bagi Indonesia. Bila ekspor lebih besar daripada impor, itu artinya surplus bagi Indonesia.

"Kebetulan untuk neraca perdagangan seingat saya masih selalu defisit, namun fluktuasinya bergerak terus. Terkadang nilai ekspor mendekati nilai impor, tapi terkadang juga defisit agak tajam," kata Kepala Sub Seksi Hanggar Pabean Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Entikong, Heru Hartanto, diwawancarai detikcom di PLBN.

Kebetulan bulan Juni 2017 adalah bulan lebaran, impor cenderung lebih besar daripada ekspor. Barang impor yang masuk Indonesia via PLBN Entikong adalah barang-barang yang dibawa oleh warga perbatasan (Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayam) menggunakan Kartu Identitas Lintas Batas (KILB). Warga perbatasan punya jatah belanja di Malaysia 600 Ringgit per bulan dan bisa dibawa masuk ke Indonesia tanpa kena pajak.

"Impor itu ya barang KILB ini," kata Heru.


Humas KPBC Entikong Sofyar Banuaraja Ritonga menjelaskan soal neraca ekspor dan impor yang tercatat Bea Cukai di PLBN Entikong. Transaksi perdagangan Melalui PLBN Entikong pada Juni 2016 sampai Juni 2017 menunjukkan dinamika ekonomi di perbatasan ini. Terpantau baik ekspor maupun impor mengalami penurunan nilai.

Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke Malaysia tercatat di bulan November 2016 sekitar Rp 17,5 miliar. Impor tertinggi dari Malaysia ke Indonesia terjadi pada Agustus 2016, senilai Rp 30 miliar. Selama setahun itu, ekspor tak pernah mengungguli impor. Pada Juni 2017, nilai ekspor di angka Rp 6 miliar nilai impor sekitar Rp 17 miliar.

Grafik perdagangan yang melalui PLBN Entikong.Grafik perdagangan yang melalui PLBN Entikong. Foto: GRAFIK TRANSAKSI PERDAGANGAN MELALUI PLBN ENTIKONG (Sumber: KPPBC Entikong)

Lima komoditas ekspor terbesar menurut Bea Cukai Entikong yakni pertama kopra, disusul hasil laut, barang kebutuhan harian seperi sabun atau sampo, gula kelapa, dan arang kayu.

Barang ekspor tak terbatas dari Sanggau saja, melainkan juga dari berbagai wilayah di Kalimantan Barat. Eksportir perlu melengkapi dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) sebagai pemberitahuan kepada pihak Bea Cukai. Eksportir harus berbadan hukum. Barang yang diekspor oleh pihak berbadan hukum yang melengkapi PEB bakal tercatat di pendataan sampai Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebenarnya, ada pula komoditas tradisional dari Indonesia, yakni lada alias sahang dalam bahasa warga perbatasan. Selain itu, ada pula hasil kebun lain seperti singkong, nanas, dan talas. Namun demikian, hasil bumi ini belum bisa dibilang sebagai komoditas yang masif menurut hitungan ekspor.

"Komoditas di sini itu lada. Tapi sebagian besar saat ini masih tradisional, jumlahnya kecil-kecil," kata Heru Hartanto.

Lada tetap dicatat Bea Cukai sebagai komoditas ekspor, namun sebagai barang tradisional lintas batas. Biasanya lada dibawa ke Malaysia sebanyak 20 karung atau 16 karung memakai mobil pribadi. Para eksportir lada kebanyakan bukan eksportir berbadan hukum yang melengkapi PEB. Seringkali ekspor tradisional mereka tak tercatat oleh Bea Cukai. Pihak Bea Cukai Entikong mendorong agar petani tradisional ini membentuk Usaha Dagang (UD) sebagai badan usaha resmi, sehingga ekspor lada bisa tercatat dengan lebih baik oleh Bea Cukai.

Petani sahang.Petani sahang. Foto: Rachman Haryanto

Padahal nilai ekspor lada tidak bisa dibilang sedikit. Dikutip dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, catatan pada Mei 2017 menunjukkan ekspor lada senilai Rp 2.167.200.000,00. Pada Juni 2017, saat ekspor komoditas lain turun, nilai ekspor lada naik menjadi Rp 4.017.300.000,00.

"Untuk ekspor kita memang mendorong masyarakat supaya bisa ekspor. Imbasnya nanti ke ekonomi Indonesia, ke neraca perdagangan akan membaik," tutur Heru Hartanto. Bea Cukai Entikong telah mengadakan dialog pada 13 Juli lalu untuk membekali pelaku usaha pertanian lada untuk dapat melakukan ekspor sesuai ketentuan.

Bupati Sanggau, Paolus Hadi, menjelaskan mayoritas penduduk di sini berladang sahang. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar berasal dari petani. Hasil bumi lainnya termasuk rempah-rempah. Harga jual hasil bumi memang cenderung lebih baik di Malaysia ketimbang di dalam negeri. Ekspor memang menguntungkan.

"Kemarin, yang membeli lada agak mahal di sana. Per kilogram pernah menyentuh Rp 100 ribu lebih, hampir Rp 200 ribu. Tapi sekarang anjlok, saya dengar. Sekarang Rp 20 rib sampai Rp 30 ribu saja per kilogram," kata Paolus Hadi diwawancarai detikcom di Rumah Dinasnya, Kamis, 13 Juli 2017.
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed