DetikNews
Selasa 22 Agustus 2017, 17:34 WIB

Sapaan Om, Indon, dan Batik di Malaysia

Erwin Dariyanto - detikNews
Sapaan Om, Indon, dan Batik di Malaysia Ilustrasi bendera terbalik (Sudrajat/detikcom)
Jakarta - Selepas kepemimpinan Soeharto dan Mahathir Mohamad, ketegangan antara Indonesia dan Malaysia kerap terjadi. Seolah tak ada lagi respek bangsa serumpun.

Pada era 1970-an, Malaysia banyak mengimpor tenaga guru dari Indonesia untuk mengajar di sekolah-sekolah mereka. Tapi memasuki dekade berikutnya, seiring dengan kondisi ekonomi yang membaik, justru tenaga kerja tingkat rendahanlah yang banyak dicari dari Indonesia.

"Jadi ada perubahan selera di Malaysia. Bila dulu mereka impornya guru, sekarang kok cuma pembantu. Berarti selera Malaysia yang berkurang," tutur komika Lies Hartono, yang populer disapa Cak Lontong, dalam sejumlah kesempatan.

Di satu sisi, hadirin memang terpingkal-pingkal dibuatnya. Di sisi lain, boleh jadi mereka juga sebetulnya meratapi sindiran tersebut. Faktanya, yang kerap terjadi kemungkinan adalah betapa harkat dan martabat masyarakat Indonesia kerap dilecehkan oleh Malaysia. Hal itu umumnya terjadi justru di era reformasi, ketika Soeharto tak lagi menjadi penguasa di Indonesia. Begitu pun Mahathir Mohamad, yang telah meninggalkan kursi perdana menteri di Malaysia.

Terakhir, insiden terbaliknya pemasangan bendera Merah-Putih di buku SEA Games yang masih berlangsung. Meski Malaysia kemudian dengan cepat meminta maaf, sebagian masyarakat kita tentu sulit memahami bagaimana keteledoran semacam itu bisa terjadi.

Padahal, di era Soeharto-Mahathir masih sama-sama berkuasa, hubungan kedua negara begitu mesra. Berbeda dengan Sukarno, yang dianggap konfrontatif, Soeharto bagi Malaysia jauh lebih wise dan ngemong. Indonesia dan Soeharto menjadi kiblat Mahathir dan para pemimpin Malaysia. Bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menata kehidupan politik yang solid, juga membangun kehidupan demokrasi tanpa harus sepenuhnya berkiblat ke Barat.

"Dengan setiap negara di ASEAN, Malaysia memiliki masalah. Tapi yang paling mudah diselesaikan adalah dengan Indonesia. Jadi saya merasa berutang budi terhadap Indonesia dan Pak Harto," begitu pengakuan Mahathir dalam buku 'Soeharto The Untold Story'.

Pak Harto, tulis Mahathir di bagian lain buku tersebut, menganggap Malaysia sebagai bangsa serumpun, begitu pula dirinya menempatkan Indonesia. Hanya karena sejarah yang membuat Indonesia dan Malaysia terpisahkan, sesungguhnya kedua bangga berasal dari satu bangsa.

"Apabila ada masalah yang mengharuskan presiden dan perdana menteri turun tangan, maka selalu dibicarakan dengan baik sehingga masalah tidak menjadi besar dan membuat buruk hubungan kedua negara," tulis Mahathir.

Masih di dalam buku itu, dia mengaku ikut meniru gaya Soeharto dalam hal memperlakukan segenap cendera mata yang pernah diterimanya. Ketika Soeharto menyimpannya di Museum Purna Bhakti di lingkungan Taman Mini Indonesia, Mahathir pun kemudian menyimpan cendera mata yang diterimanya selama menjadi perdana menteri di museum. "Hakikatnya cendera mata itu bukan untuk pribadi saya, tapi untuk rakyat Malaysia."

Pengamat politik militer Prof Salim Said, yang kerap mondar-mandir Jakarta-Kuala Lumpur, menyebut perubahan sikap Malaysia terhadap Indonesia dalam belasan tahun terakhir sebagai fenomena OKB alias 'orang kaya baru'. Perekonomian Malaysia yang maju lebih pesat membuat kalangan elite dan masyarakat negeri jiran itu seperti kehilangan empati dan sensitivitasnya terhadap tetangga.

Selain sebutan 'Indon' terhadap orang-orang Indonesia yang bernada merendahkan, masih ada contoh-contoh lain sikap, ucapan, atau stigma yang diberikan Malaysia terhadap Indonesia. Dalam buku 'Jokowi Melawan Debt Collector' karya Salim Haji Said, disebutkan pengalamannya saat diajak jalan-jalan ke Petaling Jaya. Di tengah jalan, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya melambat untuk mendekati seorang pejalan kaki berbaju batik lengan panjang.

Sopir membuka kaca jendela dan memanggil-manggil si pejalan kaki yang sebetulnya tak dia kenal. "Om, om, apa kabar?". Yang dipanggil menoleh dan tersenyum, lalu kembali berjalan.

"Itu kuli-kuli dari Indonesia yang membangun Kota Petaling Jaya ini," ujar si sopir menjelaskan kemudian. Rupanya sapaan 'Om' sudah populer di Malaysia sebagai panggilan kepada para TKI. Dan baju batik identik dengan pakaian yang biasa dikenakan mereka.

"Itulah Pak sebabnya kami tidak suka pakai baju batik di depan umum di sini, sebab kita mudah diperlakukan sebagai TKI," ujar seorang diplomat kepada Salim Said seperti ditulis dalam buku tersebut.


(erd/jat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed