detikNews
Senin 21 Agustus 2017, 15:22 WIB

Patrialis Merasa Difitnah KPK soal Apartemen dan Uang ke Anggita

Aditya Mardiastuti - detikNews
Patrialis Merasa Difitnah KPK soal Apartemen dan Uang ke Anggita Patrialis Akbar (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Eks hakim konstitusi Patrialis Akbar menyebut jaksa penuntut umum (JPU) KPK memutarbalikkan fakta terkait dengan pemberian uang dan pembayaran apartemen kepada Anggita Eka Putri. Patrialis menyebut apartemen itu belum dilunasi karena dia keburu tersangkut kasus di KPK.

"JPU masih mendalilkan bahwa setelah saya terima uang USD 10 ribu dari Kamaludin tanggal 23 Desember 2016, lalu saya memberikan uang itu kepada Anggita Putri sejumlah USD 500," kata Patrialis saat membacakan pleidoi di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/8/2017).


Patrialis menyebut, dalam sidang, Anggita mengaku memberikan uang satu minggu sebelum umrah pada 25 Desember 2016. Sedangkan Kamaludin membayar utang pada 23 Desember 2016. Dia juga merasa tidak bertemu dengan Anggita sejak 23-25 Desember 2016.

"Memang pemutarbalikan fakta oleh JPU kebangetan. Jadi kalau saya berikan uang saya kepada siapa pun atau diberikan apa pun kepada siapa pun adalah hak saya, tidak ada urusan dengan JPU," tegasnya.



"Namun saya paham sekali kenapa JPU terlalu berani memutarbalikkan fakta ini, sebab memang dari awal kasus saya memiliki beberapa misteri yang sudah saya ungkapkan di depan, hadirnya seorang wanita di kasus saya sehingga cukup sempurna cara-cara menghancurkan nama baik, harkat, dan martabat saya. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa membalas setimpal dengan apa yang dilakukan JPU," sambungnya.


Dia juga meluruskan soal pembelian unit Apartemen Casa Grande yang dikaitkan dengan kasus uji materi perkara nomor 129/PUU-XIII/2015. Dia menyebut pembelian apartemen itu tidak terkait dengan janji Rp 2 miliar yang diberikan Basuki Hariman dan Ng Fenny.

"Bahwa dalil JPU tentang rencana saya mau beli Apartemen Casa Grande adalah bentuk nyata pemutarbalikan fakta sebab tidak benar saya mau beli apartemen tersebut dengan mengharapkan uang Rp 2 miliar dari Basuki Hariman," tegasnya.

"Pertama, mendapatkan diskon besar dari harga Rp 3,4 miliar menjadi Rp 2,2 miliar dengan catatan harus bayar tunai. Alasan lain adalah Saudara Irwan Nazif menyampaikan kepada saya adanya prospek hasil sewa yang bagus apabila apartemen itu disewakan kepada orang asing akan mendapatkan hasil Rp 25-30 juta/bulan. Oleh karena itu, saya tertarik untuk membeli apartemen tersebut," urainya.

Patrialis menyebut rencana pelunasan pembayaran rumah secara tunai melalui bank sudah disampaikan saat bersaksi di persidangan. Dia menyebut belum lunasnya apartemen tersebut karena dirinya saat itu sedang diperiksa KPK.

"Namun Saudara Irwan Nazif mengatakan pada saat itu bahwa pembelian apartemen ini belum bisa dilanjutkan/diambangkan dulu karena ada masalah dengan KPK. Sehingga anak dan istri saya tidak bisa melunasi pembayaran apartemen tersebut," jelasnya.

Patrialis Merasa Difitnah KPK Soal Apartemen dan Uang ke AnggitaAnggita (Agung Pambudhy/detikcom)


"Oleh karena itu, tidak benar dan menyesatkan apabila rencana pembelian apartemen saya untuk diberikan kepada orang lain. Hal ini pun juga bersifat fitnah," tegasnya.

Sebelumnya, dalam tuntutan, JPU menyebut Patrialis terbukti menerima suap dari Basuki Hariman dan Ng Fenny. Jaksa menyebut Patrialis membutuhkan uang sekitar Rp 2 miliar untuk melunasi pembelian satu unit Apartemen Casa Grande Residence Tower Chianti untuk Anggita Eka Putri.

Selain itu, Patrialis diduga membutuhkan dana sebesar Rp 1-2 miliar untuk membelikan Anggita rumah di daerah Cibinong.
(ams/dhn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com