DetikNews
Minggu 13 Agustus 2017, 10:34 WIB

Salah Tapi Marah, Arogansi Mereka yang Ngamuk Saat Mobil Diderek

Elza Astari Retaduari - detikNews
Salah Tapi Marah, Arogansi Mereka yang Ngamuk Saat Mobil Diderek Foto: Cuplikan video pria mengamuk (dok Sudin Dishub Jakbar).
Jakarta - Sejumlah pengendara yang memarkir kendaraan di jalan tidak bersikap terpuji. Tahu tindakannya salah, mereka malah ngamuk saat mobilnya diderek oleh petugas dishub.

Di awal Februari 2017 lalu, seorang pemilik mobil membakar mobilnya karena tak terima diderek. Peristiwa itu terjadi di Jl Paseban, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (3/2).

Belakangan diketahui pemilik mobil itu adalah Mamat. Mamat melakukan tindakan itu agar petugas mengurungkan niatnya untuk menderek. Mamat memarkir mobilnya di Jl Paseban Raya karena tidak adanya lahan parkir yang dimiliki pelaku.

"Diduga dia kesal diderek sama petugas di Paseban, dia bakar mobilnya," ujar Kasubag Humas Polres Jakpus Kompol Suyatno, Jumat (3/2).



Masih di bulan yang sama, seorang pria berinisial AM (32) ngamuk dan merusak mobil derek milik Sudin Perhubungan Jaksel. Dia tidak terima dengan besaran jumlah denda hingga jutaan rupiah untuk menebus mobilnya yang diderek piak Dishub.


Kejadian ini bermula dari mobil Toyota Kijang Innova B-1162-SRO milik AM tersebut diderek di daerah Kuningan karena parkir di area yang dilarang. Akhirnya, mobil tersebut diderek Dishub Jaksel. AM pun datang karena merasa tak bersalah dan meminta mobilnya dikembalikan.

Saat itu AM menolak membayar denda dan akhirnya denda tersebut membengkak menjadi Rp 2,5 juta. Akibat mobilnya dirusak AM, Sudin Perhubungan Jaksel mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

Kerugian itu bersumber dari dua buah mobil operasional yang dirusak oleh AM. Pihak Sudin pun lalu mempolisikan AM.

"Jadi kan ada dua mobil, yang kena kaca depan dan samping. Ya itu kerugiannnya dari situ. Kami mengetahui bahwa denda Rp 500 ribu itu berat. Tapi itu kan Perda-nya. Dan kami sudah memberitahu kepada orang itu bahwa kalau mobilnya ditinggal maka akan ada kelipatan denda per harinya," terang Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, Christianto dalam perbincangan kepada detikcom, Selasa (28/2).


Terakhir, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria mencaci petugas Dinas Perhubungan saat mobilnya hendak diderek viral di media sosial. Peristiwa itu ternyata terjadi pada pertengahan Juni lalu.

Pada video yang diposting oleh Instagram @sudinhub_jakbar, Sabtu (12/8), pria tersebut mencaci maki petugas dishub yang hendak menderek mobilnya. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar pasar belakang stasiun Jatinegara, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur.

Makian kasar dilontarkan pria itu. Meski mendapat cacian, petugas Dishub dengan sabar menghadapi dan tetap tegas menindak pelanggaran pria tersebut yang memarkir mobilnya di bahu jalan.

"Harus sabar, itu risiko tugas. Kita tetap laksanakan tugas sesuai SOP dan ketentuan yang berlaku. Profesional, tegas tapi sabar. Setiap apel selalu kita sampaikan, karena tindakan yang kita lakukan pasti berdampak hukum," jelas Kadishub DKI, Andri Yansyah saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (12/8) malam.

"Saya selalu anjurkan kepada semua petugas Dishub, saat melakukan tindakan atau menghadapi pelanggar, agar mengutamakan ketentuan dan SOP," imbuhnya.


Menurut Andri, petugas Dishub sebenarnya sering kali menghadapi pengendara 'ngamuk' saat melakukan penindakan terhadap pelanggaran. Meski begitu, tak ada sanksi khusus kepada pelanggar 'ngamuk' selama mereka tindak melakukan tindak pidana.

"Bukan cuma sekali dua kali, dulu pernah di depan stasiun Jatinegara yang kita (ada masalah) sama sopir-sopir taksi, tetap dilaksanakan. Praktiknya tetap humanis, tegas dan sabar," ucapnya.

Pernah juga ada seorang ibu-ibu yang marah karena mobilnya diderek. Sang ibu itu menurut Andri sampai berdiri di mobil derek. Namun dia selalu mengimbau agar anak buahnya tidak terprovokasi.

"Kalau sanksi tidak ada, gimana kita nya aja, kalau kita mau proses hukum ya akan lanjut. Tapi kebanyakan masyarakat sudah tahu mereka salah. Mereka menemui kita, minta maaf, lalu buat pernyataan tidak akan mengulangi lagi. Kalau kita nggak lapor (polisi) nggak akan diproses," tambah Andri.
(elz/cim)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed