DetikNews
Kamis 10 Agustus 2017, 08:49 WIB

Tagihan Listrik Pemicu Konflik Penghuni dan Pengelola Apartemen

Aryo Bhawono - detikNews
Tagihan Listrik Pemicu Konflik Penghuni dan Pengelola Apartemen Foto: Cici Marlina Rahayu/detikcom
Jakarta - Kasus seperti yang terjadi pada komika Muhadkly MT alias Acho dan penghuni lainnya di Apartemen Green Pramuka City boleh jadi merupakan fenomena gunung es, relasi antara penghuni dan pengelola apartemen di tanah air. Pola manajemen yang tak transparan kerap menjadi salah satu pemicu konflik.

Di Kalibata City, misalnya, 13 penghuninya Juni lalu melayangkan gugatan ke pengadilan. Mereka mempersoalkan berbagai tagihan, seperti listrik, air, dan iuran pemeliharaan lingkungan secara sepihak. Pada Juni lalu, ia dan belasan penghuni lainnya akhirnya melayangkan gugatan kepada pengelola apartemen.

Mereka menuntut agar pihak tergugat yakni PT Pradani Sukses Abadi (pengembang), PT Prima Buana Internusa (operator), dan Badan Pengelola Kalibata City membayar Rp 23.176.492 kepada para penggugat sebagai kerugian biaya tinggal selama ini. Selain itu juga ada tuntutan ganti rugi immaterial senilai Rp 1 miliar kepada masing-masing penggugat.

"Kami juga berencana mengajukan gugatan lainnya terkait pengenaan biaya pengambalian sertifikat unit," kata Wen Wen, salah seorang inisiator gugatan saat berbincang dengan detik, Rabu (9/8/2017) malam.

Triana Salim dari bagian hukum Forum Pengembangan Perumahan dan Perhimpunan Satuan Rumah Susun, terjadi juga di sejumlah apartemen lainnya. Triana menyebut, selama ini warga tidak bisa membayar listriknya langsung ke PLN. Mereka harus membayar ke pihak pengelola dengan biaya lebih mahal.

"Listrik sering kali menjadi jalan masuk bagi pengembang dan pengelola apartemen menekan penghuninya," kata Triana.

Staf Pengaduan Hukum Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia Mustafa Aqib menyebut manajemen pengelolaan apartemen yang tak transparan memang kerap memicu konflik. "Kajian kami pada 2015, sekitar 40 persen kasus perumahan adalah soal pengelolaan dan ingkar janji," ujarnya.

Ia menduga, keengganan pihak pengelola memfasilitasi pembentukkan P3SRS (Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun) meski merupakan amanat UU, karena ada potensi uang besar di sana. Tanpa ada P3SRS segala pungutan biasa ditetapkan tanpa musyawarah dengan warga penghuni. Akibatnya meletup menjadi konflik yang terkadang berujung ke ranah hukum.

"Kami melihatnya bahwa posisi konsumen lah yang sangat lemah ketika menghadapi tuduhan pidana. (Anehnya) Polisi justru responsif jika yang mengadu adalah pengembang," ungkap Mustafa.

Wen Wen mengamini sinyalemen Mustafa tersebut. Ia dan para penghuni Tower Palm Apartemen Kalibata City, tiga tahun bersabar menunggu jawaban soal pembentikan P3SRS. Namun jawaban dari pengembang dan Badan Pengelola tak pernah merespons.

"Sejak 2011 kami melakukan langkah baik-baik dengan bertanya ke Badan Pengelola, pengembang, sampai ke dinas perumahan hingga Kementerian Dalam Negeri. Tetapi ya hasilnya nihil, sampai kami putuskan membentuk P3SRS sendiri pada 2015," ucap Wen Wen.

Ketika rapat pembentukkan P3SRS berlangsung, dia melanjutkan, mereka sempat diintimidasi oleh beberapa orang berperawakan kekar. Padahal UU No. 20 tahun 2011 tentang Rumah Susun menjamin soal pembentukkan P3SRS.

Pasal 75 dan 59 perundangan itu menyebutkan P3SRS harusnya dibentuk setahun sejak penyerahan pertama kali pemilik sarusun (satuan rumah susun). Namun pengembang tak mau memfasilitasi.

Pembentukan P3SRS dianggap mendesak sebab Pengelola Apartemen kerap menaikkan berbagai tarif secara sepihak.

General Manager Kalibata City Ishak Opung membantah pihaknya memainkan tarif listrik dan air. Kepada sejumlah media beberapa waktu lalu dia memaparkan berbagai tagihan yang disampaikan ke penghuni telah sesuai aturan pemerintah. Untuk tariff listri, misalnya, ia merujuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2015 tentang Penyediaan Tenaga Listrik.

Pihaknya juga membantah klaim warga bahwa Badan Pengelola tidak transparan dalam mengelola uang warga. "Setiap bulan laporan keuangan selalu kami temple di mading tower-tower warga," ujarnya.
(jat/jor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed