Kaum Bumi Datar dan Masyarakat yang Krisis Orientasi Nilai

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Minggu, 06 Agu 2017 11:25 WIB
Foto: Internet
Jakarta - 'Kaum Bumi Datar' adalah olok-olok politik yang sering lewat di lini masa. Ini adalah tanda kalau masyarakat mengalami krisis orientasi nilai.

Kaum Bumi Datar adalah sebutan yang disematkan kepada sebagian masyarakat yang dianggap antikritik, antifakta dan keras kepala. Awalnya Bumi Datar adalah istilah pseudoscience bidang astronomi, lalu beberapa bulan terakhir ini menjadi sebutan untuk kelompok yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.

detikcom berbicang dengan Sosiolog Fisipol UGM, Muhammad Najib Azca, Minggu (6/8/2017). Menurut dia sebutan Kaum Bumi Datar sama saja seperti Kecebong, Sumbu Pendek atau Bani Taplak. Semua hanyalah olok-olok politik semata.

BACA JUGA: Kenapa Sih Kaum Bumi Datar Jadi Olok-olok Politik?

Yang harusnya jadi pertanyaan adalah, kenapa olok-olok politik ini muncul. Najib berpendapat, masyarakat Indonesia mengalami krisis orientasi nilai.

"Ini adalah Anomie, situasi dimana masyarakat mengalami krisis orientasi nilai," kata Najib.

Anomie adalah istilah yang dicetuskan Sosiolog Emile Durkheim di abad ke-19. Masyarakat mengalami kekacauan karena tidak ada aturan yang diakui bersama mengenai perilaku yang baik.

"Perkembangan teknologi informasi menyebabkan krisis kepercayaan terhadap lembaga negara, masyarakat dan agama," kata Najib.

BACA JUGA: Kaum Bumi Datar dan Masyarakat yang Tidak Suka Fakta

Hujan informasi di media sosial membuat zona nyaman masyarakat terganggu karena ada informasi-informasi yang tidak enak, meskipun itu adalah fakta. Sebaliknya, muncul sumber informasi alternatif yang memenuhi rasa nyaman, padahal itu informasi yang salah.

"Masyarakat jadi lebih suka informasi yang tidak benar, asalkan terasa manis. Padahal mereka butuh obat yang pahit. Kebenaran kan terkadang pahit, tapi itu obat," jelas Najib.

Kaum Bumi Datar menurutnya adalah indikasi masyarakat yang sedang sakit dan kesulitan memegang sebuah nilai. "Ini adalah indikasi masyarakat yang sakit, susah untuk menilai mana yang bisa dipercaya dan tidak," tutupnya. (fay/imk)